RADEN Mas Syahid benar-benar merasa takluk. Padahal dia manusianya selama ini merasa benar, dia juga pahlawannya orang-oranh miskin dan kelaparan, dan bukankah Syahid ini juga anak Sang Wilwatikta Tuban keturunan langsung Sang Brawijaya V, yang keras kepala dan mempermalukan ayahandanya sendiri Tumenggung Arya Teja karena menjadi pencuri.
Syahid, dia juga sahabat Rampok Tunggal paling ditakuti di wilayah tengahan jawa, yang merajai Hutan Rawa, hutan paling angker dan kelak sebagai cikal bakal Kerajaan Islam Demak. Duh, dia juga yang merampas kuda-kuda prajurit Padjajaran dan menjualnya kepada juragan-juragan kaya demi memberi makan orang miskin dan kelaparan.
Kini dihadapan orang tua bernama Maulana Malik Ibrahim hanya mampu bersimpuh dan meratap agar ulama besar itu sudi mengangkatnya sebagai murid. “Orang tua, angkatlah aku menjadi muridmu. Aku akan mengabdi kepadamu.”
Syahid masih tetap bersimpuh. Dihadapannya Kanjeng Maulana Malik Ibrahim semakin lebar senyumnya. Cahaya wajahnya yang terang terlihat kian bercahaya menatap lembut sosok anak muda didepannya. Ada kebahagiaan tak terhingga terpancar di wajahnya.
Sesaat orang tua ini menarik napas, lalu menghembuskannya secara perlahan seakan melepas kegundahan hati selama ini menghantui dirinya. Seperti bongkahan padat dan sudah mengkristal didalam hatinya. Bongkahan padat inilah secara berangsur serasa mencair dan akhirnya lenyap saat itu juga.
Maka, terdengarlah suaranya membatin. “Hmm… Benarlah dugaanku selama ini… Anak muda ini memang keponakanku… Dialah putra Maulana Ishak yang hilang di laut…” Lagi manusia yang sesungguhnya Kanjeng Gresik ini menghela napas. “… Dan, engkau benar wahai saudaraku Syeh Wali Lanang, putra kusumah yang engkau kabarkan terdampar di tanah Jawa itu benarlah adanya…”
Selesai membatin begitu Kanjeng Gresik berkata hendak menguji. “Anak muda, kengapa engkau ingin menjadikanku guru? Sedang aku sama sekali tidak mengerti apa apa.”
Syahid hanya mandesah halus dan memandang lekat orang tua didepannya. Ia tahu orang tua ini tengah menguji dirinya. Maka jawabbya. “Aku tidak perduli orang tua engkau siapa, asalkan aku telah kau
angkat menjadi murid, apapun ucapanmu adalah pelajaran buatku,”
Lagi-lagi Maulana Malik Ibrahin tersenyum. “Apa yang membuatmu ingin mengangkat guru padaku? Karena tongkat inikah?” Syeh Mahgribi menunjukkan tongkatnya. Syahid cuma tertunduk dalam.
Syahid memang tidak bisa melepaskan hatinya dari pemderitaan orang miskin fan kelaparan. Sekalipun sudan takluk dihadapan Kanjeng Gresik namun masih ada keinginannya untuk memiliki tongkat Kanjeng Gresik. Andaikan saja tongkat itu menjadi miliknya…. Duh tidak ada lagi orang yang mati karena kelaparan…
Syeck Mahgribi sadar apa yang tengah dipikirkan anak muda didepannya. Sembari tersenyum kecil ucapnya lagi lembut. “Anak muda, pandanglah kearahku dan lihatlah baik baik tongkat ini. Gunakan matamu dan jangan dengan hatimu.”
Ragu ragu Syahid agak mendongak. Menatap ragu kedepan. Lelaki dikalangan sahabat ulama dikenal dengan sebutan Syeh Maghribi ini tersenyum lembut. “Apa yang kau lihat adalah benar. Tongkat ini hanyalah sebuah benda tak berharga. Hanya sepotong bambu biasa yang membantuku untuk berjalan…”
Ulama yang juga sahabat Syeh Al-Baghdadi ini sesaat hentikan kalimatnya. Tatapannya yang teduh menyentuh batu permata dipangkal tongkat. Maka tersenyumlah dia melanjutkan. “Anak muda, hanya benda ini satu-satunya penghias tongkatku. Tapi aku tidak begitu membutuhkannya lagi. Nah, ambillah tetapi tolong jangan menghancurkan tongkatnya.”
“Orang tua, kini aku tidak menginginkan benda apapun mikikmu. Angkatlah aku sebagai muridmu wahai orang tua.” Syahid masih kukuh dengan duduknya, bersimpuh dengan wajah menunduk dalam. “Anak muda, bangkitlah. Tak baik engkau bersimpuh seperti itu.”
“Aku akan bangkit setelah engkau bersedia menjadi guruku.”
“Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dariku.”
“Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu, kecuali mendengarkan segala nasehat dan petuahmu.”
“Nasehat apa yang engkau inginkan dariku.”
“Segala ucapanmu adalah nasehat bagiku.”
Kanjeng Gresik adalah sahabat Syeh Al-Baghdadi yang bermukim di bukit Juwana inipun akhirnya tersenyum lebar. Tubuhnya membungkuk dan meraih pundak Raden Mas Syahid. “Nah, bangunlah.”
“Tidak, sebelum engkau angkat aku jadi murid wahai orang tua.”
“Dengarlah baik baik. Perbuatanmu ini bukan saja membuatku celaka. Dirimupun jadi ternina. Lekas bangun.” Suara Kanjeng Gresik tetap terdengar lembut. “Tidak orang tua, aku akan tetap seperti ini.”
Kanjeng Gresik memang sahabat karib Syeh Al-Baghdadi. Dahulu dia mengunjungi bukit Juwana. Kepada Kanjeng Gresik Syeh Al-Baghdadi memang mengaku telah mengajarkan Syahid ilmu memanah dan ilmu berjudi. Dan, Syeh Al-Baghdadi ini juga mengabarkan kepada Kanjeng Gresik jika kehadiran putra Wilwatikta Tuban itu selalu diiringi hadirnya Dara Pethak, merpati putih sahabat Maulana Ishak.
Syeh Al-Baghdadi alias Syeh Benggolo yang di kalangan percaturan persilatan digelari Pengembara Dari Baghdad, hanya tergugu ketika mendengar wisik Kanjeng Gresik tentang bintang yang ketujuh, yang akan membuat islam bersinar terang benderang di tanah jawa. Hanya saja, Kanjeng Gresik tidak menyampaikan ketika itu siapa manusianya yang akan menyandang gelar itu karena dia sendiripun tidak mengetahuinya.
Syeh Maulana Malik Ibrahim padahal ketika sowan ke Bukit Juwana berharap manusia yang sempat membuat Sang Brawijaya V ketar ketir ini dapat memberi petunjuk keberadaan anak yang disebut Syeh Wali Lanang Putra Kusumah.
Dan, Syeh Maghribi inipun lantas tersenyum manakala teringat olehnya saat pertama kali bertemu Syeh Al-Baghdadi. Manusia berjuluk Pengembara Dari Baghdad itu memang sedang gusar karena rambutnya yang tidak bisa dipotong sehingga membuatnya risih, terkesan urakan dan tidak terawat.
Lantaran rambutnya juga dia mendatangi tokoh-tokoh sakti dan padepokan-padepokan silat kesohor ntuk meminjam senjata-senjata mustika, agar rambutnya bisa dipotong. Dan karena itu pula terjadi perang tanding yang mengakibatkan banyaknya tokoh sakti yang tewas.
Hal ini juga membuat Sang Brawijaya gusar. Karena kalau dibiarkan bisa-bisa habislah persediaan pendekar Majapahit. Bukankah baik prajurit, pengawal istana sampai para senopati berasal dari padepokan-padepokan silat.
Berpikir kesitu Sang Brawijayapun memilih berdamai. Dengan sebuah bujuk rayu, Pengembara Dari Baghdad ini dihadiahi daerah bernama Juwana. Di daerah itu Sang Brawijaya berucap agar Pengembara Baghdad berdiam sambil menjanjikan mencarikan pusaka sakti yang bisa memotong rambutnya.
Namun, dalam perjalanan ke Juwana, dia bertemu dengan Syeh Maghribi. Karena merasa lucu dengan kegusaran Syeh Al-Baghdadi, Kanjeng Gresik akhirnya menawarkan diri memotong rambutnya dengan kedua jarinya yang dibentuk seperti gunting.
Saat itu sadarlah Sang Pengembara Dari Baghdad sadar bahwa Kanjeng Gresik itulah pemilik Ilmu Satu Bintang, yang menurut wisiknya kini berada di tanah jawa. Cukup hanya dengan Dua Kalimasyahadat maka terpangkaslah rambut Pengembara Dari Baghdad.
Kanjeng Gresik tersenyum… Dan kini, anak muda dihadapannya saat inilah sesungguhnya pewaris Ilmu Satu Bintang. Mengapa Syahid dikatakan pewaris Ilmu Satu Bintang, kecuali Syeh Masud Al-Masud Al-Jawi barangkali didunia ini Syeh Wali Lanang satu-satunya yang dapat menerangkan.
Senyum Kanjeng Gresik mereka lega. “Baiklah… Engkau aku angkat sebagai muridku…”
Mendengar itu, laksana seorang anak mendapatkan mainan bagus, berbinar-binar sorot mata Syahid ketika itu juga. “Ja-jadiii, orang tua bersedia mengangkat aku sebagai murid…”
Syeh Maulana Malik Ibrahin kembangkan senyum. “Insya Allah engkau akan diberi petunjuk oleh Sang Maha Kuasa. Allah Yang Menciptakan langit dan bumi beserta segenap isinya. Nah, berdirilah anak mu-
da.”
Raden Mas Syahid langsung berdiri dan mencium tangan Kanjeng Gresik. Ulama besar sahabat Syeh Al-Baghdadi alias Sunan Ngudung di Juwana ini sesaat pandangi Raden Mas Syahid, sebelum kemudian berucap “Alhamdulillah….” dan membalikan tubuh melangkah melanjutkan perjalanan.
Dibelakang Kanjeng Gresik, Raden Mas Syahid melangkah mengikuti. Perlahan tapi jelas, seakan terbawa angin terdengar asma asma Allan dilapazkan. Sementara diufuk timur terlihat Dara Pethak, Merpati Putih sahabat Maulana Ishak terbang lurus ke udara….. (TAMAT)





