Jakarta – Lantai bursa Tanah Air kembali diwarnai sentimen negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan Rabu (8/7/2026) dengan koreksi signifikan, anjlok 1,89 persen ke posisi 5.873. Pelemahan ini memicu kekhawatiran di kalangan investor, menandai hari yang berat bagi pasar modal domestik.
Sejak pembukaan perdagangan pagi hari, sinyal pelemahan sudah terasa ketika IHSG langsung berada di zona merah pada level 5.984. Tekanan jual terus membayangi sepanjang hari, menyeret indeks ke titik terendah intraday di 5.872 sebelum sedikit rebound menjelang penutupan.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini menunjukkan perputaran yang cukup masif meskipun di tengah koreksi. Tercatat, volume perdagangan mencapai 21,1 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi menembus Rp10,5 triliun. Intensitas perdagangan juga tinggi, ditunjukkan oleh frekuensi sebanyak 1,9 juta kali transaksi. Namun, kapitalisasi pasar secara keseluruhan sedikit tergerus, berada di kisaran Rp10,2 triliun.

Related Post
Gambaran umum pergerakan saham menunjukkan dominasi sentimen negatif. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 195 emiten yang berhasil mencatatkan penguatan. Sebaliknya, mayoritas, yakni 512 emiten, harus rela melihat harganya terkoreksi, sementara 256 saham lainnya terpaku stagnan tanpa perubahan berarti.
Di tengah gelombang koreksi, beberapa saham justru mampu mencuri perhatian dengan performa cemerlang. Tiga saham yang memimpin daftar top gainers adalah Nitrasanata Dharma (JECX) yang melesat 25,00 persen. Disusul oleh Niramas Utama (JELI) dengan kenaikan 24,89 persen, dan Multi Medika Internasional (MMIX) yang juga perkasa dengan penguatan 24,51 persen.
Namun, daftar saham yang paling terpukul juga tak kalah panjang. Tiga saham yang menjadi top losers hari ini adalah Bekasi Asri Pemula (BAPA) yang anjlok 14,98 persen. Kemudian, Trimitra Propertindo (LAND) turut terperosok 14,29 persen, diikuti oleh Bhuwanatala Indah Permai (BIPP) yang juga mengalami penurunan serupa sebesar 14,29 persen. Para analis kini menyoroti faktor-faktor pemicu pelemahan ini dan prospek pasar ke depan.









Tinggalkan komentar