31.7 C
Jakarta
Jumat, Januari 27, 2023

Julita Ilyasa Menyulap Bambu Hitam Jadi Seni Ukir Wajah

KARAWANG, MEDIA SERUNI – Pohon bambu? Siapapun tahu jenis tanaman rumpun ini. Tapi tahukah kalau dari ruas-ruas bambu ini ternyata bisa menjadi karya seni bercita rasa tinggi.

Setidaknya ini dibuktikan Julita Ilyasa, pemuda asal Kampung Tegal Gempol RT 09 RW 03, Desa Cintalanggeng, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang. Dengan kemahirannya melukis, Ilyasa mampu memindahkan wajah orang ke batang bambu dengan cara mengukir.

Bukan hal mudah memang mengukir wajah orang ke batang bambu. Selain bambunya juga pilihan tidak semua bambu bisa dijadikan kanvas. Karenanya Ilyasa khusus menggunakan jenis bambu hitam yang sudah berumur satu tahun.

Selain bambunya keras kulit bambunya juga tidak gampang retak. Sehingga ketika diukir, gurat-gurat ukirannya tidak pecah. Ilyasa hanya menggunakan pisau ukir, kater, lem dan pernis untuk pekerjaan seninya.

Julita Ilyasa Menyulap Bambu Hitam Jadi Seni Ukir Wajah
Julita Ilyasa Menyulap Bambu Hitam Jadi Seni Ukir Wajah

Membuat ukiran bambu tingkat kesulitannya memang tinggi. Selain membutuhkan kesabaran juga ketelitian dan detil mencermati wajah yang dilukis. Meski diakuinya tidak seratus persen karya ukirnya bisa menyamai aslinya.

“Inikan seni siluet jadi semi karikatur, sehingga tidak akan seratus persen mirip aslinya,” jelas Ilyasa menuturkan kalau karya seni yang dibuatnya termasuk jenis seni siluet.

Kepada mediaseruni.co.id, Ilyasa mengaku semula dia hanyalah pengangguran saja. Tapi kelamaan menganggur bosan juga. Ilyasa ingin dirinya bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Setelah berpikir begitu, Ilyasa melihat potensi besar rumpun bambu yang ada di kampungnya. Bagi orang-orang di kampungnya kalau bukan buat kayu rumah dan warung, batang bambu hanya menjadi pagar pembatasan halaman.

Padahal kalau mau dipoles dengan vernis batang bambu itu sedikitnya akan memiliki nilai jual lebih tinggi. Apalagi kalau diukir tentunya harga jualnyapun akan lebih mahal.

BACA JUGA:  PUPR Tambal Lubang Jalan Tempat Penampakan Pocong di Jalan Syeh Quro

Demikian, awal seni ukir bambu itu lahir dalam diri Ilyasa. Berbekal kemahitannya melukis pemuda jebolan sekolah tahun 2017 ini mencoba mewujudkan idenya.

“Saya tadinya gak bisa mengukir tapi saya belajar sendiri. Alhamdulillah, ternyata saya bisa,” tutur Ilyasa mengaku kemahirannya mengukir didapatnya secara otodidak.

Untuk satu ukiran wajah, Ilyasa butuh waktu dua atau tiga hari. Sementara per bingkai ukirannya harganyapun variatif tergantung tingkat kesulitan dan lamanya mengukir. Namun untuk rata-rata ukirannya cuma dihargai Rp 120 ribu per bingkai.

Julita Ilyasa Menyulap Bambu Hitam Jadi Seni Ukir Wajah
Julita Ilyasa Menyulap Bambu Hitam Jadi Seni Ukir Wajah

Kendati demikian Ilyasa merasa bersyukur. Walau dengan keterbatasan tenaga sebulan Ikyasa mampu memproduksi tiga pesanan, malah kalau lagi hoki bisa lebih banyak dari itu. “Omset untuk per bulan tidak menentu tergantung pesanan, kadang ada 3 pesanan, kadang bisa sampai 10 pesanan sebulan,” ucapnya.

Pemasaran karya seni siluetnyapun, tutur Ilyasa, selama ini dilakukannya via media sosial dengan mengupload di facebook, WhatsApp dan Instagram pribadi.

“Alhamdulillah, karya seni saya sudah sampai ke berbagai daerah dari via online. Awalnya dari teman ke teman, tapi sekarang bukan cuma di Jawa tetapi juga Lampung, Cirebon dan Depok,” ungkap Ilyasa.

Wartawan : Suryadi
Editor : Mayadasari

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
27PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: