Terkuak Sampah Dapur Jadi Sumber Cuan Jutaan

Terkuak Sampah Dapur Jadi Sumber Cuan Jutaan

mediaseruni.co.id – Selama ini, sisa makanan dari dapur rumah tangga dan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) kerap berakhir tragis sebagai tumpukan limbah tak berguna. Namun, di Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, sebuah transformasi menakjubkan tengah berlangsung. Limbah organik yang dulunya dianggap masalah kini disulap menjadi sumber penghasilan menjanjikan, berkat inovasi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

Perubahan signifikan ini digagas melalui fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang melayani masyarakat di tiga kelurahan. Sumber utama bahan baku olahan berasal dari buangan organik rumah tangga serta para pedagang di kawasan Pantai Bagek Kembar. Konsepnya lugas: setiap sampah yang tiba tidak langsung dibuang, melainkan melewati proses pemilahan ketat. Bagian organik kemudian diarahkan untuk mendukung peternakan maggot.

Terkuak Sampah Dapur Jadi Sumber Cuan Jutaan
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Maggot BSF dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam mendegradasi materi organik secara efisien. Kehadiran serangga kecil ini tidak hanya efektif menekan volume timbunan sampah yang harus dibuang ke TPA, tetapi juga menghasilkan biomassa maggot yang kaya nutrisi. Hasil budidaya ini memiliki potensi besar sebagai pakan alternatif, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi kelompok masyarakat yang mengelolanya.

COLLABMEDIANET

Muhammad Ridwan, Ketua Kelompok Bale Maggot, mengungkapkan bahwa pemanfaatan limbah organik ini telah membuka perspektif baru bagi warga. "Melalui pelatihan yang kami ikuti, kami belajar bagaimana sisa makanan yang sebelumnya hanya dibuang, kini bisa diubah menjadi media budidaya maggot yang produktif. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang, tidak hanya membantu mengurangi beban sampah, tetapi juga memberikan keuntungan finansial bagi kelompok kami dan masyarakat luas," jelas Ridwan.

Ridwan menambahkan, pengolahan sampah secara mandiri menjadi kunci agar masyarakat tidak lagi bergantung pada sistem konvensional kumpul-angkut-buang. Dengan memisahkan material yang masih bernilai sejak awal, lebih banyak potensi ekonomi yang bisa digali.

Pandangan serupa disampaikan Lalu Martawang, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram, yang mewakili Wali Kota. Menurutnya, keberadaan TPS3R harus diikuti dengan pergeseran pola pikir masyarakat terhadap sampah. "Pembangunan fasilitas TPS3R ini bukan sekadar menyediakan sarana pengelolaan. Lebih jauh, kami berharap fasilitas ini menjadi katalisator perubahan perilaku dan budaya masyarakat dalam memperlakukan setiap buangan," tegas Martawang.

Ia menegaskan, sampah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai barang yang harus segera disingkirkan. Sebagian besar, terutama yang masih memiliki nilai guna, dapat dikelola menjadi sumber daya berharga. "Bantuan yang paling berdampak adalah bantuan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat nyata yang dapat dirasakan dalam jangka panjang," pungkasnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar