JAKARTA – Nilai tukar Rupiah kembali tertekan, ditutup melemah signifikan 37 poin atau sekitar 0,22 persen ke level Rp17.762 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini. Pelemahan mata uang domestik ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika geopolitik global yang bergejolak, terutama di Timur Tengah, serta antisipasi terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Analis pasar uang terkemuka, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya yang dikutip mediaseruni.co.id, menyoroti sentimen eksternal sebagai pemicu utama fluktuasi ini. Pasar global sempat diwarnai optimisme seputar potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri permusuhan di kawasan Timur Tengah. Kesepakatan tentatif tersebut, yang mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut, awalnya diharapkan membawa stabilitas.

"Rincian kesepakatan perdamaian sementara mulai muncul, dengan Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan itu akan mengesampingkan senjata nuklir untuk Teheran, dan seorang pejabat AS mengindikasikan Iran dapat menjual minyak setelah penandatanganan," jelas Ibrahim.

Related Post
Memorandum of Understanding (MoU) yang belum dipublikasikan itu memperpanjang gencatan senjata yang rapuh yang diumumkan pada bulan April selama 60 hari lagi, membuka jalan bagi pembicaraan menuju gencatan senjata permanen. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Amerika Serikat akan mencabut blokade pelabuhan Iran, sementara Teheran akan mengizinkan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital yang secara efektif diblokir sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari.
Namun demikian, optimisme ini dibayangi oleh sejumlah ketidakpastian. Para pejabat industri memperingatkan bahwa kembalinya produksi dan penyulingan minyak Iran ke tingkat pra-perang kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Lebih lanjut, Israel telah menunjukkan sikap menjauhkan diri dari gencatan senjata April dan perjanjian AS-Iran terbaru. Hal ini menambah kerentanan terhadap keberlanjutan perdamaian.
Ketegangan semakin memuncak setelah serangan pesawat tak berawak Israel yang menargetkan tiga kendaraan di Lebanon selatan, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai lainnya, seperti dilaporkan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA). Insiden ini bahkan memicu teguran publik yang jarang terjadi dari Presiden Trump terhadap taktik militer Israel, menggarisbawahi rapuhnya situasi di kawasan tersebut.
Di sisi lain, fokus pasar juga tertuju sepenuhnya pada pengumuman kebijakan pertama Federal Reserve di bawah Ketua Kevin Warsh. Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah. Namun, investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut "plot titik" (dot plot) untuk mencari petunjuk tentang jalur kebijakan di masa depan. Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun mengenai apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini, yang akan sangat memengaruhi pergerakan modal global dan, pada akhirnya, nilai tukar Rupiah.
Kombinasi antara harapan yang rapuh akan stabilitas di Timur Tengah dan antisipasi kebijakan moneter The Fed menciptakan tekanan ganda bagi Rupiah, mendorong mata uang domestik ini kembali ke zona pelemahan. Para pelaku pasar kini menanti perkembangan lebih lanjut dari kedua front tersebut untuk menentukan arah Rupiah ke depan.







Tinggalkan komentar