Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyuarakan keprihatinan mendalam terkait terganggunya rantai pasok nasional. Banyak pelaku usaha dilaporkan menghadapi kendala serius, imbas langsung dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengungkapkan bahwa situasi ini bukan hanya menghambat kelancaran logistik, tetapi juga memicu mental "wait and see" atau sikap menunggu dan melihat di kalangan pebisnis. "Oh, pasti banyak sekali. Bagaimanapun juga bukan hanya terganggu logistiknya tapi juga mental wait and see. Itu kan pasti ada," ujar Anindya saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Anindya, yang akrab disapa Anin, menjelaskan bahwa tak sedikit perusahaan kini berada dalam situasi force majeure. Kondisi ini, menurutnya, bukan disebabkan oleh ketidakmampuan finansial atau operasional, melainkan murni karena ketiadaan pasokan bahan baku atau komponen yang vital di pasar global. "Bukan karena tidak mampu, tapi karena sampai pasoknya tidak tersedia," tegas Anin.

Related Post
Meskipun demikian, Anin mencatat bahwa hingga saat ini belum ada keluhan spesifik mengenai penurunan volume ekspor dari para pelaku usaha. Namun, ia menegaskan bahwa gangguan pada sektor logistik adalah keniscayaan yang akan berdampak luas pada aktivitas perdagangan internasional. "Masih belum (keluhan penurunan ekspor) secara spesifik. Tentu dengan logistik seperti ini pasti akan ada dampaknya," tuturnya.
Pihaknya masih terus memantau dinamika global untuk merumuskan langkah strategis yang tepat, tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan definitif. "Jadi kita mesti pikir baik-baik tapi belum kita simpulkan dalam suatu keputusan," pungkas Anin, menekankan perlunya kehati-hatian dalam menyikapi gejolak ekonomi global yang dipicu oleh tensi geopolitik.









Tinggalkan komentar