JAKARTA, Kamis, 30 April 2026 – Gejolak pasar modal kembali menghantam saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), yang mencatat koreksi signifikan sekitar 16 persen secara year-to-date. Menanggapi kondisi ini, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyerukan agar para investor tetap menjaga ketenangan dan mengarahkan fokus pada prospek investasi jangka panjang.
Menurut Hery, dinamika fluktuasi harian di bursa saham merupakan fenomena yang lazim terjadi. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pergerakan harga sesaat tidak seharusnya menjadi pemicu kepanikan, terutama bagi pemegang saham emiten berkapitalisasi besar atau blue chip.
Hery secara khusus menggarisbawahi pentingnya fundamental perusahaan. Bagi investor yang berorientasi pada horizon investasi menengah hingga panjang, yakni rentang 5 hingga 20 tahun, kekuatan fundamental jauh melampaui signifikansi pergerakan harga harian yang kerap dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi global.

Related Post
"Kita tidak perlu terlalu terpaku pada fluktuasi harga saham. Pergerakan naik turunnya harga justru dapat memicu peningkatan tekanan darah dan tingkat stres," nasihat Hery, yang juga mengaku sebagai investor jangka menengah dan panjang, dalam sebuah konferensi pers virtual pada Kamis (30/4/2026).
Sebagai alternatif strategi, Hery menyarankan para investor untuk lebih cermat dalam menganalisis dividend yield atau imbal hasil dividen yang secara konsisten diberikan oleh perseroan. Dengan kinerja laba yang solid dan berkelanjutan, BRI terbukti mampu menawarkan tingkat pengembalian investasi yang substansial, jauh melampaui rata-rata instrumen investasi konvensional lainnya.
Ia memaparkan, "Meskipun harga saham mengalami tekanan sekitar 15-16 persen, fokuslah pada rasio dividen. Dividen kami sangat kompetitif, mampu memberikan return tahunan antara 10-11 persen. Di mana lagi Anda bisa menemukan investasi dengan imbal hasil sebesar itu? Deposito mungkin hanya sekitar 7 persen, sementara reksa dana pasar uang berkisar 5,5-6 persen."
Hery Gunardi juga menyatakan keyakinannya bahwa seiring dengan membaiknya kondisi makroekonomi, baik di tingkat global maupun domestik, harga saham perusahaan dengan fundamental yang kokoh akan secara otomatis kembali menguat, mengikuti tren positif indeks pasar.
(Disarikan dari laporan Anggie Ariesta di Okezone Economy)







Tinggalkan komentar