mediaseruni.co.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan di pasar valuta asing. Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), mata uang Garuda terpantau merosot tajam hingga menyentuh level psikologis baru, yakni dolar AS menembus angka Rp18.000 per satu dolar Amerika Serikat. Fenomena ini memicu kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi nasional mengingat depresiasi yang terjadi cukup signifikan.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data yang dihimpun, tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh kombinasi berbagai faktor ekonomi global yang sedang tidak menentu. Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa dinamika pasar internasional menjadi faktor utama yang menekan stabilitas rupiah di tengah meningkatnya permintaan terhadap mata uang dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa situasi ini merupakan dampak langsung dari ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah, yakni kekhawatiran terhadap laju inflasi global serta adanya risiko fiskal yang membayangi pasar keuangan dunia.

Related Post
"Tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap inflasi global serta risiko fiskal yang sedang berkembang," ujar Erwin dalam keterangannya.
Kondisi ekonomi dunia yang sedang tidak stabil ini semakin diperparah oleh gejolak harga komoditas energi. Salah satu faktor krusial yang turut memperburuk keadaan adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Hingga Selasa malam, harga minyak dunia dilaporkan telah melampaui angka US$108 per barel. Kenaikan harga minyak ini menjadi sangat sensitif karena berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi global dan biaya produksi di berbagai negara.
Ketegangan geopolitik juga menjadi faktor kunci di balik lonjakan harga minyak tersebut. Hingga saat ini, belum ada kesepakatan atau titik temu yang jelas terkait isu pembukaan Selat Hormuz, sebuah jalur perdagangan minyak yang sangat vital bagi pasokan energi dunia. Ketidakpastian mengenai status jalur perdagangan ini membuat para pelaku pasar bersikap sangat waspada dan cenderung memilih untuk memegang aset aman (safe haven) seperti dolar AS.
Meningkatnya kebutuhan akan valuta asing di pasar global semakin memperkuat posisi dolar AS, yang pada akhirnya memberikan tekanan hebat bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Para pengamat ekonomi memperkirakan bahwa jika ketegangan geopolitik di wilayah penghasil minyak tidak segera mereda, maka volatilitas nilai tukar rupiah masih berpotensi mengalami fluktuasi yang cukup tajam dalam beberapa waktu ke depan.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan dapat terus memantau perkembangan situasi ini secara ketat guna menjaga stabilitas moneter nasional dan memitigasi dampak negatif dari pelemahan rupiah terhadap daya beli masyarakat serta beban impor nasional.









Tinggalkan komentar