mediaseruni.co.id – Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia tengah merancang skema insentif komprehensif. Langkah ini krusial demi menyukseskan program bioetanol yang direncanakan meluncur pada 2027 dengan campuran bensin E10. Kabar baiknya di tengah gejolak harga minyak global, bioetanol menunjukkan daya saing yang kuat sehingga kebutuhan akan dana kompensasi atau talangan belum mendesak.
Menurut Bahlil harga bioetanol saat ini masih jauh lebih menarik ketimbang bahan bakar minyak BBM non-subsidi. Dengan bioetanol di kisaran Rp11.000 per liter dan bensin non-subsidi mencapai Rp16.000 per liter jelas terlihat pemanfaatan bioetanol masih sangat menguntungkan dan belum menuntut suntikan dana kompensasi. "Jika harga bioetanol Rp11.000 dan bensin non-subsidi Rp16.000 ada selisih signifikan. Ini berarti tidak perlu dana talangan saat ini" jelas Bahlil dalam kesempatan terpisah.

Bahlil merinci produksi bioetanol mengandalkan tiga komoditas pertanian utama jagung singkong dan tebu. Khusus tebu bahan baku yang dimanfaatkan adalah molase produk sampingan yang selama ini kerap dianggap berharga rendah. Pemerintah kata Bahlil berkomitmen menjaga stabilitas harga bahan baku agar petani tetap untung. Saat ini molase dihargai sekitar Rp1.000 per kilogram.

Related Post
Namun Bahlil menekankan persiapan skema insentif tetap vital. Terutama jika kelak harga minyak dunia anjlok membuat harga bensin non-subsidi lebih murah dari bioetanol. "Misalnya jika harga minyak global merosot hingga bensin non-subsidi hanya Rp9.000 atau Rp10.000 sementara bioetanol tetap Rp11.000 tentu akan ada gap. Di sinilah kami akan menyusun formulasi terbaik demi melindungi kepentingan industri kesejahteraan petani dan keberlanjutan energi nasional" pungkasnya. Pemerintah akan merumuskan strategi untuk menutupi disparitas harga memastikan program bioetanol terus bergulir.







Tinggalkan komentar