JAKARTA – Menjelang arus mudik Lebaran 2026, bayang-bayang kemacetan parah di Pelabuhan Merak kembali menghantui. Sorotan tajam kini tertuju pada keterbatasan infrastruktur dermaga yang dinilai menjadi biang kerok utama, mengancam kelancaran arus penyeberangan Merak-Bakauheni yang merupakan urat nadi logistik dan transportasi penumpang di Sumatera.
Anggota Komisi VII DPR, Bambang Haryo Soekartono, menyoroti persoalan krusial ini yang telah menjadi momok tahunan. Menurutnya, meski puluhan kapal disiagakan, sebagian besar justru terpaksa "menganggur" karena minimnya fasilitas sandar. Dari sekitar 72 kapal yang disiapkan untuk melayani lintasan Merak-Bakauheni, hanya sekitar 28 kapal yang dapat beroperasi secara optimal.
"Situasi ini sudah berlarut-larut bertahun-tahun yang menyebabkan kemacetan parah di lintasan Merak-Bakauheni pada saat musim libur Lebaran dan Tahun Baru," ungkap Bambang di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Related Post
Ia menambahkan, sungguh ironis melihat kontras antara antrean panjang kendaraan logistik dan penumpang dengan fakta bahwa lebih dari 60 persen armada kapal, atau sekitar 44 unit, tidak dapat dioperasikan. Padahal, kapal-kapal tersebut dalam kondisi siap dan layak beroperasi. Keterbatasan ini berasal dari jumlah dermaga yang hanya tujuh, di mana setiap dermaga hanya mampu melayani sekitar empat kapal secara bergantian.
Bambang menegaskan bahwa kondisi ini merupakan masalah serius yang terus mengorbankan masyarakat. Penumpukan kendaraan dan penumpang yang tak terhindarkan menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial akibat inefisiensi waktu dan biaya.
Paradoksnya, kelancaran akses jalan tol yang menghubungkan berbagai daerah justru memperparah kondisi di pintu penyeberangan. Peningkatan volume kendaraan, baik logistik maupun penumpang, yang menuju Pelabuhan Merak tidak diimbangi dengan kapasitas pelayanan penyeberangan yang memadai. Saat permintaan melonjak di musim puncak, kapasitas angkut pelayanan justru terpasung.
"Pada saat peak season masyarakat membutuhkan angkutan, tetapi kapal tidak bisa dioperasikan karena keterbatasan dermaga," kritiknya.
Oleh karena itu, pemerintah didesak untuk segera mengambil langkah konkret dengan menambah jumlah dermaga di Pelabuhan Merak. Penambahan fasilitas sandar ini menjadi kunci fundamental untuk mengurai kemacetan kronis, memastikan kelancaran arus penyeberangan, dan mendukung efisiensi pergerakan ekonomi di masa mendatang, khususnya menjelang Lebaran 2026. Tanpa solusi cepat, penumpukan kendaraan di Merak akan terus menjadi cerita pahit yang berulang setiap tahun.









Tinggalkan komentar