JAKARTA – Perum Bulog menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga beras nasional sepanjang tahun 2026. Melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bulog menargetkan distribusi masif hingga 828 ribu ton beras ke seluruh penjuru negeri, sebuah langkah strategis untuk mengamankan daya beli masyarakat dan menekan potensi gejolak inflasi dari sektor bahan pokok.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa penugasan ini bukan tanpa dasar. "Dasar hukum penugasan kami sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 204 tanggal 11 Februari 2026, dengan total SPHP tahun ini sebesar 828 ribu ton yang harus kami salurkan," ujar Rizal, sebagaimana dikutip mediaseruni.co.id pada Sabtu (4/4/2026). Penugasan ini menggarisbawahi peran sentral Bulog dalam menjaga ketahanan pangan dan menstabilkan perekonomian mikro.
Rizal menambahkan, mekanisme distribusi dirancang untuk efektivitas maksimal. Penyaluran beras SPHP tidak hanya menyasar pasar rakyat secara langsung, tetapi juga diperluas melalui jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan pasokan merata dan menjaga agar harga tetap terkendali serta terjangkau di tingkat konsumen akhir, terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap fluktuasi harga.

Related Post
Selain itu, Bulog juga aktif berpartisipasi dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diinisiasi bersama kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan berbagai instansi lain. Inisiatif ini krusial dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang lebih bersahabat. Jaringan distribusi SPHP juga mencakup outlet binaan pemerintah daerah, koperasi badan usaha milik daerah, koperasi instansi pemerintah, serta Jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) yang kini telah mencapai sekitar 80 ribu titik. Ekspansi jaringan ini memperkuat kapabilitas Bulog dalam menjangkau konsumen di berbagai pelosok.
Adapun beras SPHP yang disalurkan dikemas dalam ukuran 5 kilogram dengan kualitas medium sesuai standar pemerintah, yakni tingkat pecahan sekitar 25 persen dan kadar air 14 persen. Sebagai inovasi, Bulog juga tengah mempersiapkan kemasan 2 kilogram untuk memberikan pilihan yang lebih beragam dan fleksibel bagi konsumen, menunjukkan adaptasi terhadap dinamika preferensi pasar dan kebutuhan rumah tangga yang bervariasi. Langkah ini diharapkan dapat semakin memperluas akses masyarakat terhadap beras berkualitas dengan harga terjangkau.









Tinggalkan komentar