mediaseruni.co.id – Pemerintah Indonesia tengah melakukan langkah besar dalam merevolusi sistem penyaluran bantuan sosial melalui transformasi digital. Melalui program Perlinsos Digital, pemerintah menetapkan target ambisius untuk merangkul 48 juta keluarga agar terdaftar dalam sistem tersebut hingga penghujung tahun 2026 mendatang. Langkah ini diambil guna memastikan distribusi bantuan sosial (bansos) menjadi lebih tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa integrasi data melalui platform digital ini merupakan prioritas utama dalam memperkuat jaring pengaman sosial di tanah air. Menurutnya, sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai basis data statis, tetapi juga sebagai mekanisme dinamis yang memungkinkan masyarakat untuk terlibat aktif dalam proses pendataan.

"Target kita, paling tidak di akhir tahun nanti sudah ada 48 juta keluarga yang sudah melakukan registrasi di Perlinsos Digital kita," ujar Gus Ipul dalam keterangannya pada Senin (26/10/2026).

Related Post
Hingga saat ini, progres transformasi digital tersebut menunjukkan tren positif. Tercatat sebanyak 13,2 juta keluarga telah berhasil masuk ke dalam sistem Perlinsos Digital. Menariknya, proses pendaftaran ini dilakukan melalui dua jalur utama, yakni pendaftaran secara mandiri oleh masyarakat melalui perangkat digital mereka, serta melalui pendampingan intensif oleh para agen di lapangan.
Untuk mempercepat penetrasi data ke pelosok daerah, pemerintah telah mengerahkan kekuatan besar melalui jaringan agen. Saat ini, terdapat sebanyak 816.674 orang yang telah bergabung sebagai Agen Perlinsos. Para agen ini memegang peranan krusial dalam menjembatani kesenjangan teknologi, terutama bagi masyarakat di wilayah dengan akses internet terbatas atau bagi kelompok lansia yang membutuhkan bantuan teknis dalam proses registrasi.
Gus Ipul memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen masyarakat dan para agen yang telah bekerja keras di lapangan. Keberhasilan mencapai angka 13,2 juta keluarga merupakan bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat berjalan efektif dalam mendukung digitalisasi layanan publik.
Lebih lanjut, Gus Ipul menjelaskan bahwa esensi dari pengembangan Perlinsos Digital adalah untuk memperkuat akurasi data penerima manfaat. Selama ini, tantangan terbesar dalam penyaluran bansos adalah adanya data ganda atau ketidaksesuaian antara identitas fisik dengan data administratif. Untuk mengatasi hal tersebut, proses registrasi ulang dalam sistem ini akan menggunakan teknologi mutakhir, yakni teknologi biometrik atau pengenalan wajah (face recognition).
Dengan penggunaan teknologi biometrik, setiap data yang masuk akan divalidasi berdasarkan karakteristik fisik unik setiap individu. Hal ini akan melengkapi data berbasis nama dan alamat yang sudah ada, sehingga meminimalisir risiko penyalahgunaan bantuan oleh pihak yang tidak berhak. Melalui sistem yang lebih canggih ini, pemerintah berharap setiap rupiah dari anggaran bantuan sosial dapat benar-benar sampai ke tangan keluarga yang paling membutuhkan.









Tinggalkan komentar