Strategi Cuan di Tengah Badai Saham

Strategi Cuan di Tengah Badai Saham

mediaseruni.co.id – Kondisi pasar modal Indonesia yang belakangan ini tampak lesu justru dipandang sebagai momentum emas bagi para investor cerdas. Di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot tajam dan gelombang aksi jual masif oleh investor asing, tokoh investor legendaris Indonesia, Lo Kheng Hong, justru melihat adanya peluang keuntungan yang luar biasa besar.

Dalam gelaran Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 yang berlangsung di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (5/11/2026), Lo Kheng Hong memberikan pandangan optimisnya yang kontras dengan sentimen negatif pasar saat ini. Menurutnya, penurunan indeks yang signifikan merupakan kesempatan langka untuk mendapatkan aset berkualitas dengan harga diskon.

Strategi Cuan di Tengah Badai Saham
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Menurut pengamatan saya, IHSG kita telah mengalami penurunan dari level 9.000 ke angka 5.000. Kondisi ini membuat harga saham-saham di pasar menjadi sangat murah, bahkan berada di bawah nilai intrinsiknya atau under-valued," ujar Lo Kheng Hong di hadapan para peserta seminar.

COLLABMEDIANET

Fenomena ini dipicu oleh arus keluar modal asing yang sangat masif. Tercatat, investor asing telah melakukan aksi jual senilai lebih dari Rp100 triliun sejak awal tahun berjalan. Tekanan jual yang besar ini secara otomatis menekan harga saham di bursa domestik, menciptakan kepanikan di kalangan pelaku pasar global. Namun, bagi investor dengan mentalitas jangka panjang, kepanikan tersebut adalah berkah.

Lo Kheng Hong menggunakan metafora yang sangat menarik untuk menggambarkan situasi saat ini. Ia menyebut bahwa saat ini pasar modal Indonesia sedang mengalami fenomena "hujan emas". Ia menyarankan agar para investor tidak ikut-ikutan panik, melainkan bersiap untuk memanen keuntungan.

"Ketika investor asing merasa takut dan mulai menjual saham-saham mereka di BEI, harga-harga saham pun jatuh. Bagi saya, saat ini di Bursa Efek Indonesia sedang terjadi hujan emas. Oleh karena itu, siapkanlah ember yang besar untuk menampung hujan emas tersebut," tegasnya dengan penuh keyakinan.

Sebagai contoh konkret, ia menyoroti sektor perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung pasar modal Indonesia. Ia mencermati bahwa saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks) telah mengalami koreksi harga yang sangat dalam, bahkan mencapai lebih dari 50 persen dari harga puncaknya.

Penurunan harga yang drastis ini ternyata membawa dampak positif pada aspek lain, yakni imbal hasil dividen atau dividend yield. Menurut Lo Kheng Hong, ketika harga saham turun namun perusahaan tetap mencetak laba, maka persentase dividen yang diterima investor dibandingkan harga beli akan menjadi sangat tinggi.

"Coba perhatikan saham-saham bank besar. Harganya sudah terkoreksi lebih dari 50 persen. Dengan kondisi seperti itu, saya melihat potensi dividend yield-nya bisa mencapai angka 14 persen," tambahnya.

Pesan tersirat dari sang investor legendaris ini adalah pentingnya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memilih saham berfundamental kuat di tengah gejolak pasar. Alih-alih menghindari risiko, investor disarankan untuk memanfaatkan volatilitas ini guna mengumpulkan saham-saham berkualitas tinggi di harga yang sangat murah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar