mediaseruni.co.id – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menunjukkan performa keuangan yang sangat solid sepanjang tahun berjalan. Hingga periode kuartal ketiga tahun 2026, perusahaan properti ini berhasil membukukan laba bersih setelah pajak yang mencapai angka fantastis, yakni sebesar Rp1,24 triliun. Pencapaian ini menjadi bukti ketangguhan perusahaan dalam mengelola portofolio bisnisnya di tengah dinamika pasar properti.
Selain laba bersih, laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa pendapatan perseroan telah menyentuh angka Rp5,37 triliun selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Tak hanya itu, nilai EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) yang berhasil dihimpun juga mencapai Rp1,11 triliun. Angka-angka ini mencerminkan efisiensi operasional yang terjaga serta pertumbuhan bisnis yang stabil.

CEO LPKR, John Riady, memberikan apresiasi terhadap tren positif yang dialami perusahaan. Ia mengungkapkan bahwa angka pra-penjualan atau pre-sales perseroan hingga kuartal III-2026 telah mencapai Rp5,49 triliun. Jika dibandingkan dengan target tahunan yang telah ditetapkan, angka tersebut sudah mewakili 91% dari total target sepanjang tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berada di jalur yang tepat untuk menutup tahun dengan hasil yang melampaui ekspektasi.

Related Post
"Kami menyambut baik momentum pertumbuhan yang terus terjaga dalam bisnis properti. Saat ini, pra-penjualan kami sudah mencapai Rp5,49 triliun atau setara dengan 91% dari target tahunan," ungkap John Riady dalam keterangan resminya pada Kamis (5/11/2026).
Menurut John, daya tarik utama yang mendorong lonjakan angka penjualan saat ini adalah tingginya permintaan terhadap hunian tapak (landed house). Secara spesifik, segmen hunian dengan harga terjangkau dan menengah menjadi motor penggerak utama. Strategi perusahaan yang memfokuskan diri pada segmen ini terbukti efektif dalam menangkap peluang pasar yang sedang berkembang.
Data laporan keuangan menunjukkan bahwa kontribusi terbesar dari segmen properti berasal dari hunian tapak di kelas menengah dan terjangkau. Kedua kategori ini mendominasi dengan kontribusi mencapai 75% dari total keseluruhan pra-penjualan perseroan. Hal ini membuktikan bahwa strategi penetrasi pasar pada kelas menengah bawah tetap menjadi landasan yang kuat bagi pertumbuhan LPKR.
Menatap masa depan, manajemen LPKR berkomitmen untuk tetap fokus pada penyelesaian serta pelaksanaan berbagai proyek kota mandiri yang sedang berjalan. John menekankan bahwa perusahaan akan tetap menjaga kedisiplinan dalam alokasi modal serta pengelolaan operasional yang ketat. Langkah ini diambil guna memastikan setiap proyek yang dijalankan dapat memberikan nilai tambah maksimal bagi pemegang saham dan tetap berkelanjutan secara jangka panjang.









Tinggalkan komentar