mediaseruni.co.id – Bagi Elin, pemilik usaha kuliner Nasi Goreng Pak Wit di Yogyakarta, urusan energi bukan sekadar angka di atas kertas tagihan bulanan. Masalah utamanya adalah kepastian. Baginya, ketersediaan bahan bakar adalah napas bagi usahanya; jika gas tidak ada, maka empat kompor di dapurnya akan mati, dan pesanan pelanggan yang menumpuk tidak akan pernah terlayani.
Sejak merintis usahanya pada tahun 2012, Elin sangat bergantung pada LPG tabung untuk menunjang aktivitas memasaknya. Namun, ketergantungan ini sering kali membawa kecemasan. Kelangkaan pasokan di pasar kerap membuat operasional dapurnya terganggu dan penuh ketidakpastian.

"Dulu saya sering merasa khawatir kalau persediaan gas habis. Saya sudah mencoba berbagai ukuran tabung, mulai dari yang 12 kg dan lainnya, tapi tetap saja sulit karena kadang barangnya langka di pasaran," kenang Elin saat berbincang mengenai transformasi energi di dapurnya.

Related Post
Namun, kecemasan yang menghantui selama bertahun-tahun itu kini mulai sirna. Dalam setahun terakhir, Elin merasakan perubahan besar dalam cara ia mendapatkan energi. Empat kompor di kedainya kini tidak lagi bergantung pada tabung LPG konvensional, melainkan menggunakan gas bumi melalui skema Compressed Natural Gas (CNG). Inovasi ini dikembangkan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Subholding Gas Pertamina bersama anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (Gagas).
Perubahan teknologi distribusi ini memberikan dampak instan pada kesehatan finansial usahanya. Sebelum beralih ke CNG, Elin harus merogoh kocek sekitar Rp1,5 juta setiap bulannya hanya untuk urusan gas. Setelah menggunakan CNG, pengeluarannya merosot tajam menjadi hanya sekitar Rp600 ribu per bulan. Ada potensi penghematan yang sangat signifikan, yakni mencapai Rp900 ribu setiap bulannya.
"Awalnya ada pendekatan dari pihak RT untuk memasang gas CNG ini. Saya sama sekali tidak menyesal karena terbukti jauh lebih irit," tambahnya dengan nada puas.
Fenomena yang dialami Elin menunjukkan sebuah terobosan penting dalam distribusi energi. Selama ini, ada anggapan bahwa gas bumi hanya bisa dinikmati oleh wilayah yang sudah terjangkau oleh jaringan pipa bawah tanah. Namun, melalui teknologi CNG, gas bumi kini mampu "menemukan jalan" menuju dapur-dapur yang secara geografis sulit dijangkau oleh pipa konvensional.
Indonesia memang memiliki cadangan gas bumi yang melimpah, namun tantangan utamanya adalah jarak antara sumber gas dengan pusat konsumsi. Membangun jaringan pipa transmisi yang panjang membutuhkan investasi yang sangat besar, waktu yang lama, serta perhitungan ekonomi yang rumit. Di sinilah peran CNG clustering menjadi sangat relevan, terutama di wilayah seperti Yogyakarta.
Melalui skema ini, gas bumi dikompresi dengan tekanan tinggi agar dapat diangkut menggunakan Gas Transport Module (GTM) atau kendaraan khusus menuju lokasi pelanggan. Setibanya di lokasi, tekanan gas akan diatur melalui sistem tertentu sebelum dialirkan ke jaringan distribusi lokal. Untuk penggunaan rumah tangga atau UMKM, tekanan gas akan disesuaikan kembali melalui perangkat pengatur agar aman dan stabil saat digunakan memasak.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi memperkuat penggunaan energi domestik. "Karena ini sumbernya domestik dan bukan impor, maka ini adalah energi asli Indonesia," tegas Santiaji saat ditemui di Yogyakarta.
Inovasi ini membuktikan bahwa infrastruktur pipa tidak lagi menjadi satu-satunya penghalang bagi masyarakat untuk menikmati gas bumi. Dengan kombinasi antara jaringan pipa untuk skala besar dan teknologi CNG untuk wilayah yang lebih tersebar, distribusi energi di Indonesia dapat menjadi lebih inklusif, efisien, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi para pelaku usaha kecil.









Tinggalkan komentar