Rupiah Anjlok, Utang Membengkak: Purbaya Buka Suara Strategi RI!

Rupiah Anjlok, Utang Membengkak: Purbaya Buka Suara Strategi RI!

Jakarta, mediaseruni.co.id – Gejolak ekonomi global dan domestik kembali menjadi sorotan tajam di awal Juni 2026. Pasar keuangan nasional diwarnai sentimen negatif yang menekan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sementara isu utang dan defisit anggaran kembali mencuat. Di tengah situasi ini, Menteri Keuangan Purbaya menjadi figur sentral yang terus memberikan pernyataan dan langkah strategis.

Nilai tukar rupiah menjadi sorotan utama setelah sempat anjlok menembus level Rp18.000 per dolar AS, bahkan mencapai Rp18.049 pada Kamis malam (04/06/2026). Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa tingginya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang menjadi salah satu pemicu utama pelemahan ini. Kondisi ini berdampak serius pada sektor riil, di mana industri penerbangan, misalnya, terpaksa menutup sejumlah rute akibat biaya operasional yang membengkak. BI sendiri menyatakan terus berupaya menjaga stabilitas rupiah dengan strategi yang diibaratkan "tim sepak bola di liga dunia," menunjukkan kompleksitas dan intensitas upaya stabilisasi. Meskipun sempat ditutup menguat tipis ke Rp18.036 per dolar AS pada Jumat sore, tekanan terhadap mata uang Garuda masih terasa.

Rupiah Anjlok, Utang Membengkak: Purbaya Buka Suara Strategi RI!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Tak hanya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tak luput dari tekanan, mencatatkan pelemahan signifikan. Berdasarkan data mediaseruni.co.id, IHSG ditutup melemah 4,20 persen ke level 5.594 pada Jumat (05/06/2026) sore, melanjutkan tren penurunan yang telah terjadi sejak akhir Mei, di mana IHSG turun 29,14 poin dan mencatat keluarnya dana asing sebesar Rp4,1 triliun dalam sebulan. Sepanjang hari Jumat, IHSG sempat dibuka menguat namun kemudian berbalik melemah ke 5.819, bahkan merosot 2,5% ke 5.692 di sesi siang. Para analis pasar pun memberikan rekomendasi saham di tengah sentimen negatif yang menekan bursa.

COLLABMEDIANET

Di tengah badai ekonomi ini, Menteri Keuangan Purbaya menjadi figur sentral yang terus memberikan pernyataan dan langkah strategis. Isu mengenai pengunduran dirinya dari posisi Menteri Keuangan, yang sempat berhembus kencang, telah dibantah tegas oleh pihak Istana dan juga oleh Purbaya sendiri. "Saya sukanya maju, bukan mundur," tegas Purbaya, menepis rumor resign dan reshuffle yang beredar.

Namun, tantangan fiskal tetap membayangi. Data terbaru mediaseruni.co.id menunjukkan penarikan utang baru sebesar Rp386 triliun hingga Mei 2026, yang berkontribusi pada defisit APBN yang mencapai Rp180,4 triliun pada periode yang sama. Purbaya juga tengah gencar melakukan upaya penguatan penerimaan negara, salah satunya dengan memasang mesin penghitung rokok otomatis untuk menyumbat kebocoran cukai. Ia juga berencana meninjau pelabuhan akibat kemacetan dan mengancam pejabat yang dinilai tidak becus dalam menjalankan tugas. Terkait isu kewajiban pembelian Merah Putih Bond dan Patriot Bond bagi pemilik tabungan di atas Rp3 miliar, Purbaya memberikan klarifikasi untuk menenangkan pasar.

Selain isu makroekonomi dan fiskal, beberapa perkembangan ekonomi lainnya juga menarik perhatian. Anggaran Kementerian Perhubungan telah terealisasi Rp9,06 triliun, menunjukkan progres dalam pembangunan infrastruktur. Presiden Prabowo Subianto juga menerbitkan Perpres Kereta Cepat Jakarta-Bandung dengan menunjuk AHY sebagai Ketua Komite, serta mengeluarkan aturan ekspor batu bara dan sawit melalui PT DSI, yang mendapat dukungan dari para pengusaha komoditas.

Di sektor riil, harga telur dilaporkan turun ke Rp24.424 per Kg, menekan para peternak. Sementara itu, jumlah pekerja yang terkena PHK hingga Mei 2026 mencapai 23.470 orang, dengan Jawa Barat mencatat angka tertinggi. Harga emas Antam juga mengalami kenaikan Rp11 ribu menjadi Rp2.770.000 per gram. Di sisi lain, isu hilirisasi nikel di Indonesia terus menjadi perhatian investor global, tidak hanya soal produksi tetapi juga nilai tambah.

Situasi ekonomi saat ini menuntut koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter, serta langkah-langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Pernyataan tegas dari Menteri Keuangan Purbaya diharapkan dapat memberikan sinyal positif di tengah berbagai tantangan yang ada.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar