JAKARTA – Di tengah gejolak harga minyak mentah global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, pemerintah Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan jaminan stabilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, khususnya Pertalite. Bahlil menegaskan bahwa harga Pertalite akan dipertahankan pada level Rp10.000 per liter, sebuah kebijakan yang diambil di tengah tekanan kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.
Bahlil menguraikan bahwa asumsi harga minyak dunia dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah USD70 per barel. Namun, realitas pasar menunjukkan harga minyak telah melonjak signifikan, mencapai USD80-81 per barel. Disparitas harga ini, lanjutnya, akan disubsidi oleh APBN demi menjaga stabilitas harga jual BBM subsidi di tingkat konsumen.
"Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan hari raya tidak ada kenaikan apa-apa," ujar Menteri Bahlil dalam keterangannya di Istana Negara, Rabu lalu. Pernyataan ini disampaikan setelah rapat koordinasi dengan Dewan Energi Nasional (DEN) untuk mengantisipasi kebutuhan dan ketersediaan energi menjelang periode Lebaran.

Related Post
Berbeda nasib dengan BBM bersubsidi, Bahlil menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi akan sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar global. "Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran, tetapi kalau untuk harga BBM yang non subsidi itu memang mekanisme pasar," tegasnya, mengindikasikan bahwa fluktuasi harga minyak mentah dunia akan langsung tercermin pada harga jual di SPBU.
Terkait pasokan, Bahlil menjamin ketersediaan stok BBM dan LPG akan terpenuhi secara optimal, terutama mengingat lonjakan permintaan selama periode Lebaran. Ia memperkirakan, cadangan energi nasional saat ini mampu bertahan hingga 21 hari ke depan. Meskipun mengakui adanya dampak konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap dinamika harga dan potensi hambatan pasokan global, pemerintah berupaya keras memitigasi risiko tersebut untuk kebutuhan domestik.
Namun, Bahlil juga menyoroti keterbatasan kapasitas penyimpanan strategis nasional. "Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita, ini tidak lebih dari 21 hari sampai 25 hari. Itu kemampuan kita," pungkasnya, menekankan pentingnya manajemen stok yang cermat dalam menghadapi tantangan energi global.









Tinggalkan komentar