JAKARTA – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan taringnya dalam menopang stabilitas ekonomi rumah tangga. Sebuah studi awal oleh Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) mengungkap bahwa inisiatif ini berpotensi meredakan tekanan pengeluaran harian, khususnya bagi keluarga yang rentan terhadap gejolak ekonomi.
Penelitian yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua ini memberikan gambaran mikro-ekonomi yang menarik. Sebanyak 36% rumah tangga melaporkan adanya penurunan pengeluaran harian pasca implementasi MBG, terutama pada pos anggaran bekal dan uang saku anak. Namun, perlu dicatat bahwa sekitar 63% responden menyatakan penghematan ini masih di bawah 10% dari total pengeluaran bulanan. Ini mengindikasikan bahwa MBG berperan vital dalam menjaga cash flow rutin keluarga, meskipun belum secara fundamental mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan.
Konsistensi program juga menjadi sorotan, dengan 84% responden menyebut MBG diterima setiap hari sekolah. Kendati demikian, 69% orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program kurang dari enam bulan, sehingga evaluasi dampak jangka panjang masih prematur. Perubahan paling kentara justru terlihat pada kebiasaan makan anak: 72% orang tua melaporkan anak mereka lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55% lebih mudah menerima variasi menu. RISED mengingatkan, dampak objektif terhadap status gizi, kesehatan, atau capaian pendidikan belum bisa disimpulkan pada fase awal ini. Evaluasi longitudinal sangat diperlukan untuk mengukur kontribusi MBG terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam jangka panjang.

Related Post
Berdasarkan temuan ini, RISED menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis. Kejelasan posisi MBG sebagai program sosial, intervensi gizi, atau instrumen pembangunan SDM menjadi krusial untuk memastikan konsistensi indikator keberhasilan dan desain evaluasi. Selain itu, menjaga kualitas menu, variasi gizi, dan ketepatan waktu distribusi adalah kunci agar manfaat program tidak melemah.
"Sebanyak 81% orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Dukungan ini tidak semata soal penghematan, tetapi juga terkait rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah," ujar Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, dalam rilis terbarunya. Dukungan kuat dari masyarakat ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan dan penyempurnaan program MBG ke depan.







Tinggalkan komentar