Para ekonom memprediksi Bank Sentral Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di angka 575 persen pada Rapat Dewan Gubernur bulan September 2026 Namun ada sinyal kuat kenaikan tetap mungkin terjadi jika gejolak ekonomi global memburuk drastis menjelang akhir tahun
Analisis dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia LPEM FEB UI menunjukkan mempertahankan suku bunga adalah langkah paling bijak Ini mempertimbangkan lonjakan inflasi dalam negeri serta ketidakpastian pasar global yang terus bergejolak

Dalam riset terbarunya LPEM FEB UI secara tegas merekomendasikan BI untuk tidak mengubah suku bunga acuannya saat ini Mereka menambahkan opsi kenaikan tetap terbuka sebagai antisipasi jika tekanan eksternal semakin parah di penghujung tahun

Related Post
Prediksi ini muncul seiring kenaikan inflasi nasional yang mencapai 319 persen secara tahunan pada Agustus 2026 Angka ini sedikit lebih tinggi dari 288 persen di Juli 2026 namun masih dalam batas aman target Bank Sentral yaitu 15 hingga 35 persen
Pemicu utama lonjakan inflasi berasal dari harga pangan bergejolak yang melesat dari 252 persen di Juli menjadi 406 persen pada Agustus tahunan Kenaikan harga daging ayam cabai rawit dan beras menjadi penyumbang terbesar
LPEM UI berpendapat kenaikan harga pangan ini tidak serta merta menuntut kenaikan suku bunga Pasalnya tekanan inflasi ini lebih disebabkan oleh masalah pasokan yang berada di luar kendali kebijakan moneter Bank Sentral
Menaikkan suku bunga terlalu cepat justru berisiko menghambat penyaluran kredit perbankan dan memperlambat ekspansi bisnis
Solusi untuk stabilitas harga pangan lebih membutuhkan koordinasi erat dalam rantai distribusi serta jaminan ketersediaan pasokan yang memadai









Tinggalkan komentar