JAKARTA – Pasar komoditas pangan nasional kembali menunjukkan volatilitas yang mencolok pada Senin, 13 Juli 2026. Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia mengindikasikan adanya pergerakan harga yang kontras, di mana beberapa komoditas protein utama mengalami lonjakan signifikan, sementara sejumlah jenis cabai justru mencatatkan tren penurunan yang cukup dalam. Fenomena ini tentu menjadi sorotan utama bagi stabilitas ekonomi rumah tangga dan potensi tekanan inflasi.
Analisis PIHPS Bank Indonesia mengungkapkan bahwa harga daging sapi menjadi primadona kenaikan. Daging sapi kualitas I kini diperdagangkan di kisaran Rp150.550 per kilogram, terkerek 0,1 persen dari posisi sebelumnya. Tak ketinggalan, daging sapi kualitas II juga merangkak naik 0,35 persen, mencapai Rp141.950 per kilogram. Kenaikan harga protein hewani juga merambah daging ayam ras, yang naik 0,82 persen menjadi Rp37.000 per kilogram. Selain itu, komoditas strategis lainnya seperti bawang putih mengalami apresiasi 1,25 persen menjadi Rp44.550 per kilogram, beras kualitas bawah II naik tipis 0,34 persen ke level Rp14.550 per kilogram, cabai rawit hijau naik 0,8 persen menjadi Rp50.350 per kilogram, serta gula pasir lokal yang naik 0,26 persen menjadi Rp19.100 per kilogram.

Namun, di tengah gejolak kenaikan tersebut, pasar cabai justru memberikan angin segar bagi konsumen. Cabai merah keriting memimpin penurunan harga, anjlok drastis 4,52 persen, kini berada di level Rp48.600 per kilogram. Disusul oleh cabai rawit merah yang terkoreksi 3,7 persen menjadi Rp59.850 per kilogram, cabai merah besar yang melandai 2,4 persen menjadi Rp48.850 per kilogram, dan bawang merah yang turun 2,67 persen menjadi Rp45.650 per kilogram. Penurunan harga juga terpantau pada telur ayam ras segar, yang mengalami koreksi 0,52 persen menjadi Rp28.950 per kilogram.

Related Post
Fluktuasi harga pangan ini merefleksikan kompleksitas dinamika penawaran dan permintaan di pasar domestik, yang kerap dipengaruhi oleh faktor musiman, biaya produksi, hingga kelancaran distribusi. Lonjakan harga daging sapi yang menembus batas psikologis Rp150 ribu per kilogram, misalnya, dapat mengindikasikan adanya tekanan pada pasokan atau peningkatan permintaan menjelang periode tertentu. Sebaliknya, penurunan harga cabai yang signifikan bisa jadi merupakan dampak dari panen raya di sentra-sentra produksi.
Sebagai barometer penting, data PIHPS Bank Indonesia ini menjadi acuan krusial bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam merumuskan kebijakan stabilisasi harga. Pengawasan ketat terhadap rantai pasok dan intervensi pasar yang tepat diharapkan dapat meredam gejolak harga, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang.







Tinggalkan komentar