Bandara Soetta Tutup Total Akibat Erupsi

Bandara Soetta Tutup Total Akibat Erupsi

mediaseruni.co.id – Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta baru-baru ini mencatat sebuah peristiwa bersejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Akibat aktivitas vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang menyebarkan abu ke udara, bandara terbesar di Indonesia tersebut terpaksa melakukan penutupan total untuk menjamin keselamatan penerbangan.

Peristiwa ini menjadi anomali dalam sejarah panjang operasional bandara tersebut. Berdasarkan keterangan resmi dari pihak pengelola, situasi ini merupakan kondisi ekstrem yang belum pernah dialami oleh Bandara Soekarno-Hatta selama puluhan tahun masa operasionalnya.

Bandara Soetta Tutup Total Akibat Erupsi
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), Agus Haryadi, mengungkapkan keterkejutannya atas situasi ini. Ia menuturkan bahwa berdasarkan rekam jejak pengalamannya yang sudah sangat panjang, kejadian penutupan secara menyeluruh akibat faktor alam ini adalah hal yang sangat langka.

COLLABMEDIANET

"Sepanjang yang saya tahu, saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun 1992, artinya sudah sekitar 35 tahun, belum pernah mengalami penutupan bandara secara total," ujar Agus dalam sebuah diskusi bersama Kementerian Perhubungan di Bandung, sebagaimana dikutip pada Jumat (2/10/2026).

Menurut Agus, penutupan total ini jauh lebih drastis dibandingkan masa krisis kesehatan global yang pernah melanda dunia. Ia memberikan perbandingan dengan masa pandemi Covid-19 yang berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Meskipun pandemi menyebabkan guncangan hebat pada sektor transportasi, Bandara Soekarno-Hatta tetap mempertahankan status operasionalnya.

"Saat pandemi Covid-19, bandara tidak tutup. Status bandara itu tetap open. Yang dilakukan saat itu hanyalah pembatasan mobilitas untuk meminimalkan penyebaran virus, sehingga bandara tetap bisa melayani masyarakat," jelasnya lebih lanjut.

Kondisi yang terjadi akibat erupsi Anak Krakatau kali ini dinilai jauh lebih kompleks karena berkaitan langsung dengan keselamatan nyawa di udara. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat merusak mesin pesawat jika terhisap ke dalam turbin, sehingga protokol keselamatan menuntut penutupan total jika sebaran abu sudah masuk ke wilayah jalur terbang.

Fenomena ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan mengenai betapa besarnya pengaruh aktivitas vulkanik terhadap infrastruktur transportasi nasional. Meskipun penutupan ini menyebabkan gangguan logistik dan mobilitas penumpang yang signifikan, langkah ini dianggap sebagai prosedur wajib demi menghindari kecelakaan fatal akibat abu vulkanik.

Hingga saat ini, pihak pengelola bandara terus berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Keputusan untuk membuka kembali operasional bandara akan sangat bergantung pada laporan terbaru mengenai arah angin dan kepadatan sebaran abu vulkanik di wilayah udara sekitar Jakarta dan sekitarnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar