Rupiah Ambruk ke Rp17.804: Tekanan Global & Domestik Kian Berat!

Rupiah Ambruk ke Rp17.804: Tekanan Global & Domestik Kian Berat!

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah kembali tertekan, ditutup melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Mata uang Garuda ini parkir di level Rp17.804 per dolar AS, mencatatkan penurunan 10 poin atau sekitar 0,06 persen. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang kompleks, menciptakan bayangan ketidakpastian di pasar keuangan.

Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, salah satu sentimen eksternal yang turut memengaruhi adalah perkembangan positif di pasar global terkait kesepakatan antara Washington dan Teheran. Kesepakatan sementara ini bertujuan mengakhiri permusuhan dan memulihkan navigasi komersial melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang krusial bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah global.

Rupiah Ambruk ke Rp17.804: Tekanan Global & Domestik Kian Berat!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Kesepakatan tersebut telah meningkatkan harapan bahwa jutaan barel minyak mentah yang terdampar secara bertahap dapat kembali ke pasar internasional dalam beberapa minggu dan bulan mendatang," jelas Ibrahim dalam risetnya, Jakarta, Jumat (19/6/2026), sebagaimana dikutip mediaseruni.co.id.

COLLABMEDIANET

Pencabutan blokade AS terhadap Iran pada Kamis lalu, seiring berlakunya kesepakatan sementara tersebut, telah memungkinkan kapal-kapal pengangkut minyak untuk mulai keluar dari jalur air tersebut. Prospek peningkatan ekspor minyak ini sempat mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak di atas USD120 per barel pada puncak krisis. Namun, serangan udara baru oleh pasukan Israel pada Kamis pagi sedikit meragukan keberlanjutan kesepakatan damai tersebut.

Selain itu, kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) juga turut memberikan tekanan. Sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed mengindikasikan setidaknya satu kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini, memperkuat ekspektasi biaya pinjaman yang tinggi untuk jangka waktu lebih lama. Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Rabu lalu, pernyataan Ketua Kevin Warsh ditafsirkan pasar sebagai sangat agresif (hawkish). Hal ini sontak mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mengangkat dolar AS ke level terkuatnya dalam lebih dari setahun. Investor kini lebih fokus pada kesediaan The Fed untuk mengetatkan kebijakan lebih lanjut jika tekanan inflasi berlanjut, meskipun ekspektasi inflasi secara umum lebih rendah.

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga tersebut secara resmi menurunkan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review. Penurunan peringkat ini berpotensi memengaruhi persepsi investor asing terhadap kemudahan dan transparansi informasi di pasar modal Indonesia.

Kombinasi tekanan eksternal dari kebijakan The Fed yang hawkish dan fluktuasi harga minyak global, ditambah sentimen negatif domestik dari MSCI, menciptakan badai sempurna yang menekan nilai tukar Rupiah. Para pelaku pasar kini menanti langkah-langkah strategis pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas mata uang di tengah gejolak global dan tantangan internal yang kian berat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar