Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan Jumat (13/2/2026) dengan kinerja kurang memuaskan, tergelincir 0,57 persen ke posisi 8.218. Penurunan ini menandai dimulainya pekan perdagangan yang penuh tantangan bagi pasar modal domestik.
Aktivitas transaksi pada paruh pertama hari ini mencatatkan volume sebesar 26,5 miliar lembar saham, dengan total nilai transaksi mencapai Rp12,3 triliun. Data pergerakan saham menunjukkan dominasi tekanan jual, di mana 387 saham mengalami pelemahan, sementara hanya 301 saham yang berhasil menguat, dan 270 saham lainnya terpantau stagnan tanpa perubahan berarti.
Sentimen negatif tak hanya menekan IHSG, namun juga merembet ke sejumlah indeks acuan utama lainnya. Indeks LQ45 tergerus 1,06 persen, diikuti oleh IDX30 yang melemah 0,72 persen, MNC36 dengan koreksi 0,68 persen, dan Indeks Saham Syariah Indonesia (JII) yang juga ikut merosot 1,02 persen. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual yang cukup merata di berbagai segmen pasar.

Related Post
Dari tinjauan sektoral, hanya segelintir sektor yang mampu bertahan dari tekanan. Sektor energi, konsumer siklikal, dan transportasi industri tercatat mengalami penguatan. Namun, mayoritas sektor justru ambruk, di antaranya konsumer non-siklikal, keuangan, properti, bahan baku, industri, infrastruktur, teknologi, dan kesehatan, yang semuanya berkontribusi pada pelemahan pasar secara keseluruhan.
Di tengah gejolak pasar, beberapa saham berhasil mencuri perhatian sebagai top gainers. Mereka adalah PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK), dan PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK). Sebaliknya, daftar saham yang mengalami penurunan terdalam (top losers) diisi oleh PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Danareksa Investment Management Tbk (XDIF).
(Anggie Ariesta)







Tinggalkan komentar