Strategi Baru BI Kelola Likuiditas Pasar

Strategi Baru BI Kelola Likuiditas Pasar

mediaseruni.co.id – Bank Indonesia (BI) secara resmi melakukan langkah strategis dalam mengelola likuiditas di pasar uang melalui kalibrasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya normalisasi kebijakan moneter guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

Melalui penyesuaian ini, Bank Indonesia berupaya menjaga agar pasokan dana di sistem keuangan tetap berada pada level yang ideal. Tujuannya adalah agar transmisi suku bunga acuan dapat berjalan secara efektif ke seluruh lapisan ekonomi, mulai dari perbankan hingga ke tingkat inflasi, serta mencegah fluktuasi suku bunga jangka pendek yang terlalu tajam di pasar uang.

Strategi Baru BI Kelola Likuiditas Pasar
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa ketersediaan likuiditas yang proporsional adalah kunci utama. Menurutnya, jika likuiditas di pasar terlalu minim, maka volatilitas suku bunga akan meningkat drastis, yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas ekonomi.

COLLABMEDIANET

"Fokus utama kami adalah memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang. Hal ini penting agar suku bunga kebijakan dapat tersalurkan dengan baik ke suku bunga pasar uang, tenor yang lebih panjang, sektor perbankan, hingga akhirnya mampu mengendalikan inflasi. Transmisi ini hanya akan bekerja optimal jika jumlah likuiditas memadai," ungkap Erwin dalam sebuah diskusi media di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Dalam praktiknya, BI telah melakukan penurunan posisi outstanding SRBI secara bertahap. Jika sebelumnya instrumen ini sempat menyentuh angka tertinggi di level Rp1.070 triliun, kini jumlahnya telah menyusut secara signifikan. Saat ini, posisi SRBI berada di kisaran Rp900 triliun hingga di bawah Rp950 triliun.

Penurunan ini dilakukan dengan mengubah skema lelang. Jika sebelumnya lelang dilakukan setiap pekan, kini frekuensinya diubah menjadi dua pekan sekali dengan volume yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Strategi ini bertujuan untuk melepaskan likuiditas yang sebelumnya "terkunci" pada instrumen tenor panjang (seperti tenor 6, 9, dan 12 bulan) agar dapat mengalir ke instrumen dengan jangka waktu yang lebih pendek.

Erwin menambahkan bahwa BI telah merilis sekitar Rp150 triliun likuiditas dari SRBI untuk dialirkan ke tenor yang lebih pendek. Langkah ini diharapkan dapat memberikan napas baru bagi perbankan dalam mengelola dana jangka pendek mereka.

Meski volume penerbitan SRBI dikurangi, Bank Indonesia menegaskan bahwa instrumen ini tetap akan menjadi daya tarik utama bagi investor asing (nonresiden). Untuk menjaga minat investor, BI terus memperkuat insentif lindung nilai valas melalui instrumen seperti swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Dengan demikian, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah upaya normalisasi likuiditas ini.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar