Terkuak! Kesenjangan Digital RI Ancam Daya Saing Ekonomi Nasional?

JAKARTA – Sebuah data terbaru yang mengkhawatirkan menyoroti kesiapan angkatan kerja Indonesia dalam menghadapi gelombang digitalisasi global. Menteri Ketenagakerjaan, Yasierli, mengungkapkan bahwa hanya sekitar 27 persen pekerja di Tanah Air yang saat ini memiliki keterampilan digital yang memadai. Angka ini menunjukkan disparitas mencolok dibandingkan standar global yang rata-rata mencapai 60 hingga 70 persen, memicu pertanyaan serius tentang potensi pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional di masa depan.

Gambar Istimewa : img.okezone.com

Mengutip data dari LinkedIn, Menaker Yasierli, seperti dilansir mediaseruni.co.id, menegaskan bahwa lanskap dunia kerja sedang mengalami transformasi masif. Fakta mencengangkan menunjukkan bahwa 80 persen pekerjaan yang ada saat ini bahkan tidak eksis dua dekade lalu. Lebih jauh, diproyeksikan bahwa separuh dari jenis pekerjaan yang tersedia saat ini berisiko menjadi tidak relevan dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, sebuah indikasi kuat akan urgensi adaptasi.

COLLABMEDIANET

"Dunia kerja terus berubah seiring akselerasi teknologi. Tantangan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah kesenjangan keterampilan digital atau digital skill gap," ujar Menaker dalam keterangannya baru-baru ini. Ia menekankan bahwa dengan hanya 27 persen pekerja yang memiliki kompetensi digital, Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara lain yang telah mencapai angka 60 hingga 70 persen, sebuah kondisi yang berpotensi menghambat inovasi dan produktivitas nasional.

Kendati demikian, di balik tantangan pergeseran paradigma kerja ini, Menaker juga mengidentifikasi sejumlah peluang ekonomi baru yang prospektif. Sektor-sektor seperti ekonomi hijau (green economy), platform digital, dan ekonomi perawatan (care economy) disebut-sebut sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Peluang ini, menurutnya, harus dioptimalkan, khususnya oleh generasi muda yang akan menjadi tulang punggung perekonomian.

Untuk memastikan lulusan perguruan tinggi dapat secara efektif menangkap peluang-peluang pada lanskap dunia kerja yang terus berkembang ini, Kementerian Ketenagakerjaan memperkenalkan konsep "triple readiness." Inisiatif strategis ini bertujuan untuk membekali calon tenaga kerja dengan kesiapan yang komprehensif, mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan mentalitas adaptif, agar mampu bersaing dan berinovasi di pasar kerja global yang semakin kompetitif.


Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar