Lawan Hoaks AI Lewat Generasi Muda Jakarta

Lawan Hoaks AI Lewat Generasi Muda Jakarta

mediaseruni.co.id – Tantangan dunia digital di masa depan tidak lagi sekadar tentang membedakan berita asli dan palsu. Dengan kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), batas antara realitas dan rekayasa menjadi semakin kabur. Fenomena deepfake, manipulasi suara, hingga konten generatif berbasis AI kini menjadi ancaman nyata yang dapat menyesatkan masyarakat dalam sekejap.

Menyikapi ancaman tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah proaktif melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik). Melalui program bertajuk Duta Antihoaks Jakarta 2026, Pemprov DKI berupaya mencetak generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki daya kritis tinggi untuk menjadi garda terdepan dalam melawan disinformasi.

Lawan Hoaks AI Lewat Generasi Muda Jakarta
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Kepala Diskominfotik DKI Jakarta, Marulina Dewi, mengungkapkan bahwa lanskap informasi saat ini telah berubah drastis. Jika dahulu hoaks mungkin hanya berupa teks atau narasi yang tidak masuk akal, kini hoaks hadir dalam bentuk visual yang sangat meyakinkan. "Di era AI, tantangan kita bukan lagi sekadar membedakan informasi benar dan salah. Foto, suara, bahkan video dapat direkayasa dengan sangat meyakinkan," ujar Marulina dalam keterangan resminya.

COLLABMEDIANET

Menurutnya, pertahanan paling ampuh dalam menghadapi badai informasi digital bukanlah sekadar kecanggihan teknologi, melainkan kualitas sumber daya manusianya. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk selalu memeriksa sumber, memahami konteks secara mendalam, serta memiliki kesadaran untuk berpikir sebelum menekan tombol share.

Program Duta Antihoaks Jakarta 2026 sendiri merupakan ajang yang sangat kompetitif. Dari total 356 pendaftar, hanya 10 finalis terbaik yang berhasil terpilih setelah melalui rangkaian seleksi ketat sejak Juli 2026. Para finalis ini telah melewati berbagai tahapan, mulai dari seleksi administrasi, pelatihan intensif (In House Training), hingga penyusunan proyek kampanye literasi digital yang dijalankan selama satu bulan penuh.

Pada tahap penjurian yang berlangsung pada akhir September 2026, para finalis mempresentasikan inovasi mereka di hadapan dewan juri yang terdiri dari berbagai latar belakang ahli. Mulai dari pakar literasi digital dari Kementerian Komunikasi dan Digital, motivator ternama Merry Riana, pegiat industri kreatif Dennis Adhiswara, hingga Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Nong Darol Mahmada.

Menariknya, kriteria penilaian tidak hanya berfokus pada kreativitas semata. Juri juga menitikberatkan pada kemampuan implementasi, kepemimpinan, serta dampak nyata dari proyek yang diajukan. Marulina menegaskan bahwa pihaknya tidak mencari sosok yang hanya pandai tampil di atas panggung, melainkan anak muda yang mampu menggerakkan komunitasnya.

Setelah pengukuhan pada Oktober 2026 mendatang, para duta terpilih akan menjadi mitra strategis Diskominfotik. Mereka akan bertugas menyebarkan virus literasi digital ke berbagai lini, mulai dari lingkungan sekolah, kampus, komunitas, hingga ruang-ruang publik digital. Melalui gerakan "Jakarta Lawan Hoaks", Pemprov DKI berharap dapat membangun budaya baru di tengah masyarakat: kritis dalam menerima, cermat dalam memverifikasi, dan bertanggung jawab dalam berbagi informasi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar