Waspada Rupiah Tembus Rp18200 Pekan Depan

Waspada Rupiah Tembus Rp18200 Pekan Depan

mediaseruni.co.id – Kondisi ekonomi global tampaknya tengah memberikan tekanan hebat bagi stabilitas mata uang domestik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan terus mengalami tren pelemahan pada perdagangan pekan depan, tepatnya pada periode 26 hingga 30 Oktober 2026. Jika berbagai sentimen negatif ini terus berlanjut, mata uang Garuda dikhawatirkan akan menyentuh level psikologis yang cukup mengkhawatirkan, yakni Rp18.200 per dolar AS.

Fenomena pelemahan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan analisis mendalam terhadap pergerakan pasar keuangan global, terdapat dua faktor utama yang menjadi motor penggerak tekanan terhadap rupiah. Pertama adalah penguatan indeks dolar AS yang semakin dominan di pasar internasional. Kedua adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang turut memicu ketidakpastian ekonomi.

Waspada Rupiah Tembus Rp18200 Pekan Depan
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, yang juga merupakan analis mata uang dan komoditas, memberikan pandangan kritis mengenai situasi ini. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipastikan masih akan terasa kuat pada pekan terakhir bulan Oktober ini. Ibrahim menyoroti bahwa indeks dolar AS memiliki kecenderungan untuk terus merangkak naik dan berpotensi menguji batas atas proyeksinya.

COLLABMEDIANET

"Jika kita melihat pergerakan indeks dolar yang menguat, ditambah dengan kenaikan harga minyak mentah, hal ini akan menekan rupiah secara signifikan. Kemungkinan besar pada minggu depan, nilai tukar rupiah bisa mencapai angka Rp18.200 per dolar AS," ungkap Ibrahim dalam laporan riset terbarunya pada Minggu (25/10/2026).

Lebih lanjut, Ibrahim memproyeksikan bahwa indeks dolar AS akan bergerak dalam rentang antara 100,90 hingga 103,10 pada pekan mendatang. Ia menekankan bahwa ada peluang besar bagi indeks tersebut untuk menyentuh level tertinggi di angka 103,10. Kondisi ini menandakan bahwa dolar AS sedang dalam fase ekspansi yang kuat, yang secara otomatis membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kehilangan daya saingnya.

Kenaikan harga minyak mentah juga menjadi variabel krusial yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Ketika harga energi dunia melonjak, beban impor suatu negara biasanya akan meningkat, yang pada gilirannya menuntut lebih banyak dolar AS untuk transaksi perdagangan. Hal ini menciptakan permintaan terhadap dolar yang tinggi dan secara otomatis menekan nilai tukar mata uang lokal.

Bagi para pelaku pasar dan pelaku usaha, situasi ini tentu memerlukan langkah antisipasi yang matang. Fluktuasi nilai tukar yang tajam dapat berdampak langsung pada biaya impor barang, harga bahan baku industri, hingga inflasi di tingkat konsumen. Oleh karena itu, memantau pergerakan indeks dolar dan harga komoditas energi global menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di pekan depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar