mediaseruni.co.id – Klaim pemerintah tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RAPBN 2027 yang disebut ekspansif ternyata menyimpan tanda tanya besar. Seorang ekonom justru melihat postur anggaran ini tidak sejalan dengan realitas fiskal yang ada.
Alih-alih menjadi pendorong akselerasi ekonomi yang kuat RAPBN 2027 justru memancarkan sinyal pengetatan. Ada indikasi lonjakan penarikan utang yang melebihi batas defisit serta beban keuangan tersembunyi di luar pembukuan resmi negara.

M Faisal Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics CORE Indonesia secara tegas menyatakan bahwa arah kebijakan fiskal untuk tahun mendatang tidak mencerminkan semangat anggaran yang agresif dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Related Post
Berbagai data kunci dalam APBN justru mengindikasikan perlambatan laju belanja negara yang diiringi dengan penyusutan defisit secara ketat. Faisal menyoroti bahwa meskipun diklaim ekspansif belanja negara hanya diproyeksikan tumbuh 39 persen. Defisit pun menyusut drastis menjadi Rp6712 triliun dan keseimbangan primer direncanakan lebih rendah dari perkiraan.
Faisal juga mengungkap adanya lubang fiskal signifikan yang tersembunyi di luar postur anggaran resmi atau off-budget. Beban ini berasal dari penugasan subsidi energi investasi kepada Danantara dan lembaga Special Mission Vehicle SMV Kementerian Keuangan penempatan Saldo Anggaran Lebih SAL di bank BUMN Himbara hingga skema pembagian beban dengan Bank Indonesia.







Tinggalkan komentar