mediaseruni.co.id – Dunia industri rokok elektrik atau vape di Indonesia tengah diguncang oleh isu kesehatan yang memicu ketidakpastian. Munculnya sebuah penelitian terbaru yang mengaitkan penggunaan perangkat vape dengan berbagai risiko kesehatan serius telah menciptakan gelombang kekhawatiran, tidak hanya di kalangan konsumen, tetapi juga di kalangan pelaku usaha.
Polemik ini memicu reaksi keras dari para pemain industri yang merasa bahwa narasi yang berkembang saat ini belum didasari oleh data yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Para pelaku usaha menilai bahwa isu yang tidak jelas sumbernya ini berpotensi merusak iklim investasi dan mengancam keberlangsungan ekonomi sektor rokok elektrik di tanah air.

Ketua Umum Perkumpulan Produsen E-liquid Indonesia (PPEI), Daniel Boy Purwanto, mengungkapkan bahwa situasi saat ini sangat membingungkan bagi para pengusaha. Menurutnya, pernyataan-pernyataan yang beredar di ruang publik mengenai bahaya vape cenderung bersifat sepihak dan belum memberikan gambaran yang utuh. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak sistemik, terutama bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menggantungkan hidupnya pada produksi cairan e-liquid dan perangkat vape lokal.

Related Post
"Kami merasa iklim usaha saat ini sedang terganggu akibat simpang siur informasi yang beredar. Isu-isu ini sangat membingungkan kami, para pengusaha vape, terutama mereka yang bergerak di industri lokal. Oleh karena itu, kami sangat menuntut adanya kepastian hukum agar roda ekonomi di sektor ini tidak terhenti secara mendadak," ujar Daniel dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).
Lebih lanjut, Daniel menekankan pentingnya keterbukaan data dari lembaga riset terkait, dalam hal ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang disebut-sebut menjadi rujukan dalam pemberitaan mengenai risiko kesehatan tersebut. Pihak industri mendesak agar metodologi penelitian yang digunakan dibuka ke publik agar dapat dikaji ulang secara objektif.
Alih-alih hanya menerima narasi negatif, para pelaku industri justru menawarkan solusi berupa dialog terbuka. Mereka berharap pemerintah dan lembaga riset bersedia membuka ruang audiensi untuk melakukan uji silang atau verifikasi data. Daniel mengusulkan adanya pengujian laboratorium bersama antara pihak industri dan BRIN guna membuktikan kebenaran klaim kesehatan tersebut secara ilmiah dan transparan.
"Kami sangat terbuka untuk berdialog dengan pihak mana pun, termasuk BRIN. Kami ingin ada pembuktian yang nyata, misalnya dengan melakukan uji laboratorium langsung di bawah pengawasan BRIN. Dengan begitu, hasilnya bisa menjadi dasar yang kuat bagi kebijakan pemerintah ke depan," tambahnya.
Ketidakpastian ini diharapkan segera menemui titik terang. Jika tidak segera ditangani dengan pendekatan berbasis data yang transparan, dikhawatirkan akan terjadi penurunan kepercayaan pasar yang dapat memukul sektor ekonomi kreatif dan industri manufaktur lokal di Indonesia.







Tinggalkan komentar