Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menghadapi ironi pahit di sektor maritimnya. Lalu lintas ekspor-impor yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional kini didominasi hampir sepenuhnya oleh armada kapal asing. Situasi ini memicu kekhawatiran serius akan potensi kebocoran devisa dan melemahnya industri pelayaran nasional.
Ketua Umum Himpunan Ahli Pelabuhan Indonesia (HAPI), Wahyono Bimarso, belum lama ini menyoroti kondisi pelayaran internasional Indonesia yang kian terpinggirkan. Dalam sebuah konferensi pers The National Maritime Institute (Namarin) di Jakarta, Wahyono mengungkapkan bahwa hampir seluruh pergerakan peti kemas untuk aktivitas ekspor dan impor di pelabuhan-pelabuhan utama Tanah Air diangkut oleh kapal-kapal berbendera non-Indonesia.
Ia mencontohkan Pelabuhan Tanjung Priok, yang mencatat volume sekitar 7 juta TEUs (Twenty-foot Equivalent Units) per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 6 juta TEUs merupakan kegiatan ekspor-impor, dan "hampir 100 persen" di antaranya dilayani oleh kapal-kapal asing. "Ini menunjukkan betapa parahnya kondisi yang kita hadapi," tegas Wahyono.

Related Post
Dominasi asing ini, lanjut Wahyono, menempatkan Indonesia pada posisi yang merugikan secara ekonomi. Alih-alih mendapatkan manfaat maksimal dari jasa pelayaran internasional yang seharusnya menjadi sumber devisa signifikan, Indonesia justru hanya berperan sebagai "pasar" dan "titik bongkar muat". Kondisi ini secara langsung menghambat penguatan industri maritim domestik dan mengurangi potensi pendapatan negara dari sektor logistik laut global.
Wahyono membandingkan situasi saat ini dengan era keemasan maritim Indonesia di tahun 1960-an. Kala itu, Indonesia masih memiliki armada kapal nasional yang aktif berlayar di rute-rute internasional, bahkan hingga ke mancanegara, menunjukkan eksistensi kuat dalam pelayaran global. Kini, gambaran tersebut jauh berbeda. "Nyaris tidak ada lagi armada nasional yang melayani rute internasional secara signifikan," ujarnya, menandakan kemunduran drastis dalam kapasitas dan daya saing maritim Indonesia di kancah global.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk segera merumuskan strategi komprehensif guna merebut kembali kedaulatan maritim ekonomi Indonesia, memastikan bahwa kekayaan laut dan aktivitas perdagangan internasional benar-benar memberikan manfaat optimal bagi bangsa.









Tinggalkan komentar