mediaseruni.co.id – Pemerintah Indonesia menyatakan optimisme tinggi terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global yang terus berubah. Meski angka inflasi tahunan tercatat menyentuh angka 3,23 persen pada Oktober 2026, pemerintah meyakini bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen di akhir tahun ini tetap dapat tercapai tanpa hambatan berarti.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa kondisi inflasi saat ini masih berada dalam kendali dan dalam koridor yang dapat diprediksi. Hal ini dikarenakan angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah bersama Bank Indonesia, yakni berada di kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.

Airlangga menjelaskan bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini tidak perlu dipandang sebagai ancaman serius. Menurutnya, sebagian kenaikan harga juga berkaitan dengan peningkatan pendapatan sektor pertanian, yang secara tidak langsung menunjukkan adanya perputaran ekonomi di tingkat produsen. "Pemerintah tidak merasa khawatir karena inflasi masih dalam rentang yang aman, yakni 2,5 plus minus 1 persen," ungkapnya usai menghadiri rapat kabinet di Istana Negara.

Related Post
Sebagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas harga pangan, pemerintah telah menyiapkan strategi konkret. Salah satu fokus utamanya adalah optimalisasi penyaluran bantuan pangan bagi masyarakat berpendapatan rendah. Langkah ini diambil untuk memitigasi gejolak harga beras di pasar serta memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan inflasi.
"Melalui program bantuan beras sebesar 30 kg per keluarga, pemerintah berupaya menekan dampak inflasi secara langsung di tingkat rumah tangga," tambah Airlangga.
Selain fokus pada stabilitas harga pangan, pemerintah juga mengandalkan dua pilar utama untuk menopang pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi domestik yang kuat dan aktivitas perdagangan luar negeri yang dinamis. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong sektor ekspor dan impor guna menjaga keseimbangan neraca perdagangan nasional.
Menjelang momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), pemerintah juga telah menyiapkan berbagai stimulus untuk menjaga gairah ekonomi masyarakat. Program-program seperti pemberian diskon spesial serta penyaluran bantuan sosial (bansos) menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat daya beli masyarakat.
Total anggaran bantuan sosial yang disiapkan mencapai angka sekitar Rp30 triliun. Dana ini akan digelontorkan untuk memastikan daya tahan ekonomi masyarakat tetap terjaga, terutama saat memasuki periode libur panjang. Dengan kombinasi antara pengendalian inflasi, bantuan pangan, dan stimulus konsumsi, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi 6 persen bukan sekadar angka, melainkan realitas yang dapat dicapai di penghujung tahun 2026.









Tinggalkan komentar