mediaseruni.co.id – Dunia pertambangan Indonesia tengah diguncang oleh kabar mengejutkan terkait pergeseran kepemilikan saham di salah satu raksasa energi, PT Bayan Resources Tbk. Direktur Utama perusahaan tersebut, Dato’ Dr. Low Tuck Kwong, akhirnya memberikan klarifikasi resmi mengenai rumor penjualan sebagian besar saham perusahaannya kepada pengusaha ternama asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih akrab disapa Haji Isam.
Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan di tengah keramaian acara sosial di Jakarta, pihak manajemen mengonfirmasi bahwa transaksi besar ini benar-benar terjadi. Low Tuck Kwong telah menyepakati penjualan sebesar 30,25% saham perusahaan, yang jika dikonversikan setara dengan 10,084 miliar lembar saham. Saham-saham tersebut kini beralih kepemilikan kepada PT Jhonlin Baratama, entitas bisnis yang dikendalikan oleh Haji Isam.

Merlin, yang bertindak sebagai perwakilan dari Low Tuck Kwong, menjelaskan bahwa langkah strategis ini diambil bukan tanpa pertimbangan matang. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk melepas porsi kepemilikan yang cukup signifikan tersebut merupakan murni keputusan bisnis yang diambil secara profesional. Transaksi ini dilakukan dengan prinsip transparansi tinggi dan tanpa adanya tekanan atau intervensi dari pihak luar mana pun.

Related Post
Lebih lanjut, Merlin mengungkapkan bahwa alasan di balik pemilihan Haji Isam sebagai mitra strategis baru adalah karena rekam jejak dan reputasi yang dimiliki pengusaha tersebut. Menurutnya, Low Tuck Kwong telah lama mengamati kiprah Haji Isam di industri ekstraktif.
"Beliau mengenal sosok Haji Isam sebagai mitra bisnis yang memiliki reputasi sangat baik di dunia pertambangan," ujar Merlin saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, pada Minggu (8/11/2026).
Langkah ini dipandang oleh banyak pengamat sebagai bentuk konsolidasi kekuatan di sektor energi nasional. Dengan bergabungnya kekuatan PT Jhonlin Baratama ke dalam struktur kepemilikan Bayan Resources, diharapkan tercipta sinergi yang lebih kuat dalam mengelola sumber daya alam di Indonesia. Kedua belah pihak menyatakan optimisme bahwa kolaborasi ini tidak hanya akan memperkuat posisi finansial perusahaan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi negara.
Melalui kemitraan ini, kedua raksasa bisnis tersebut berharap dapat memberikan kontribusi positif yang lebih signifikan terhadap ketahanan energi nasional dan pembangunan ekonomi di Indonesia. Transaksi ini menandai babak baru dalam peta persaingan serta kolaborasi industri pertambangan di tanah air, yang diprediksi akan terus menarik perhatian para investor global.







Tinggalkan komentar