mediaseruni.co.id – Dunia keuangan global saat ini tengah berada dalam fase penuh ketidakpastian. Gelombang instabilitas politik yang melanda berbagai belahan dunia diprediksi akan memengaruhi perilaku para investor di pasar keuangan. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi otoritas pengawas keuangan di Indonesia, mengingat dampaknya yang bisa merembet ke stabilitas ekonomi domestik.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa situasi geopolitik yang memanas telah menciptakan efek domino yang cukup kompleks. Menurutnya, ketidakpastian politik global memaksa para pelaku pasar untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam menempatkan modal mereka. Hal ini terjadi karena setiap negara kini cenderung fokus pada kebijakan stabilitas ekonomi internal guna memitigasi risiko dari luar.

"Gelombang instabilitas politik global turut meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor di pasar keuangan global untuk bersikap lebih berhati-hati," ujar Friderica dalam konferensi pers terkait Rapat Dewan Komisioner Bersama (RDKB) pada Kamis (5/11/2026).

Related Post
Selain faktor politik, tekanan inflasi juga menjadi tantangan besar. Kenaikan harga energi di pasar internasional telah memicu lonjakan inflasi secara global. Kondisi ini memaksa bank-bank sentral di berbagai negara untuk mengambil langkah kebijakan moneter yang ketat. Friderica memproyeksikan bahwa tren suku bunga tinggi kemungkinan besar akan terus dipertahankan setidaknya hingga tahun 2027 mendatang.
Situasi ini diperparah dengan semakin sempitnya ruang fiskal yang dimiliki banyak negara, terutama di kawasan Eropa. Keterbatasan anggaran pemerintah membuat kapasitas mereka dalam memberikan subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat menjadi sangat terbatas. Akibatnya, kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi beban yang cukup berat bagi masyarakat luas.
Beralih ke kondisi dalam negeri, Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik meskipun menghadapi tantangan serupa. Meskipun terdapat kenaikan inflasi yang dipicu oleh harga pangan, namun pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti di Indonesia terpantau masih dalam kategori stabil. Pola konsumsi masyarakat saat ini cenderung lebih konservatif atau sangat berhati-hati dalam berbelanja.
Namun, di tengah sikap hati-hati tersebut, terdapat beberapa sektor yang menunjukkan performa positif. Sektor otomotif, misalnya, mencatatkan pertumbuhan yang menjanjikan, terutama didorong oleh tren penggunaan mobil listrik yang kian meningkat. Selain itu, aktivitas manufaktur di Indonesia pada Oktober 2026 juga mencatatkan capaian yang sangat signifikan, yakni mencapai level tertinggi sejak periode Maret 2020.
Secara keseluruhan, fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan tren yang positif. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2026 tercatat berada di angka 5,4 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini mencerminkan bahwa seluruh lapangan usaha di Indonesia masih mampu tumbuh secara konsisten di tengah badai ketidakpastian global yang sedang melanda.







Tinggalkan komentar