JAKARTA – Pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan pada Rabu (7/1/2026) saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau, meskipun dengan penguatan yang relatif tipis. Indeks acuan tersebut mengakhiri sesi perdagangan di level 8.944, naik 0,13 persen dari penutupan sebelumnya.
Perjalanan IHSG sepanjang hari ini tidaklah mulus. Membuka perdagangan dengan optimisme di angka 8.959,09, indeks sempat melesat mencapai puncak harian di 8.970,87. Namun, momentum positif tersebut tak bertahan lama. Menjelang penutupan, tekanan jual yang cukup signifikan menyeret IHSG ke titik terendah 8.916,03 sebelum akhirnya investor kembali masuk, memicu rebound yang berhasil mengangkat indeks kembali ke teritori positif.
Di balik pergerakan harga yang fluktuatif, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau sangat dinamis. Total frekuensi perdagangan mencatat angka impresif 4,54 juta kali. Volume saham yang berpindah tangan mencapai 68,66 miliar lembar, dengan nilai transaksi yang membengkak hingga Rp36,81 triliun. Angka ini menunjukkan partisipasi investor yang tinggi, meski diwarnai tarik-menarik sentimen pasar.

Related Post
Penguatan IHSG hari ini tak lepas dari kontribusi beberapa sektor unggulan. Sektor perindustrian menjadi motor utama dengan lonjakan signifikan 2,4 persen. Tak ketinggalan, sektor Non-Primer dan Barang Baku juga memberikan dorongan positif, masing-masing menguat 1,18 persen dan 1,11 persen. Di sisi lain, sektor transportasi menjadi pemberat utama indeks, terkoreksi paling dalam sebesar 1,83 persen, diikuti oleh Sektor Primer yang juga melemah 0,93 persen.
Meskipun IHSG ditutup menguat, kondisi pasar mencerminkan adanya kehati-hatian. Jumlah saham yang menguat (367 saham) hampir seimbang dengan saham yang melemah (375 saham). Fenomena ini, di tengah nilai transaksi yang sangat besar, mengindikasikan bahwa investor masih mencermati arah pasar dan potensi risiko, sehingga aksi jual-beli terjadi secara selektif dan terdistribusi. Kondisi ini menunjukkan pasar yang dewasa, di mana volume besar tidak selalu berarti rally yang merata, melainkan seleksi ketat terhadap fundamental dan prospek sektor.









Tinggalkan komentar