mediaseruni.co.id – Kabar mengejutkan datang bagi pengguna kendaraan di Indonesia. Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax berpotensi melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp20.000 per liter. Ancaman kenaikan drastis ini dipicu oleh eskalasi krisis geopolitik yang kini memanas di kawasan Timur Tengah.
Gejolak di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah global, yang kini tercatat menembus level fantastis 108 dolar AS per barel. Situasi ini tentu menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas harga energi dunia.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menegaskan bahwa jika harga minyak dunia tak kunjung mereda dan kembali ke kisaran 60-70 dolar AS per barel seperti sebelum konflik, maka dampaknya akan terasa langsung pada harga BBM nonsubsidi di Tanah Air. Ia menyebut Pertamax dan Pertamina Dex sebagai jenis BBM yang paling rentan terhadap fluktuasi ini.

Related Post
Eko bahkan secara spesifik memprediksi bahwa harga Pertamax dan Dex berpotensi mencapai 18.000 hingga 20.000 rupiah per liter. Prediksi ini didasari oleh belum adanya tanda-tanda penurunan harga minyak global yang signifikan.
Meskipun saat ini harga Pertamax masih berada di angka Rp15.950 per liter per September 2026, Pertamina sebelumnya telah menahan kenaikan harga untuk jenis ini, meski beberapa BBM nonsubsidi lain seperti Pertamax Turbo, Pertamax Green, Dexlite, dan Pertamina Dex sudah mengalami penyesuaian. Harapan besar kini tertumpu pada meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah, yang diyakini dapat menekan kembali harga BBM nonsubsidi.
Menurut Eko, krisis geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran ini merupakan salah satu tantangan terberat yang pernah dihadapi Pertamina. Ia membandingkannya dengan konflik Rusia-Ukraina, yang menurutnya tidak menimbulkan krisis energi global separah situasi saat ini.
Konflik yang berkecamuk di kawasan vital seperti Selat Hormuz ini, kata Eko, telah memberikan dampak global yang masif, tidak hanya pada ketersediaan energi dunia, tetapi juga pada ketidakstabilan harga yang belum menunjukkan titik terang.









Tinggalkan komentar