mediaseruni.co.id – Pemerintah memberikan klarifikasi tegas terkait isu melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang sempat menjadi sorotan dalam laporan ekonomi terbaru. Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, memastikan bahwa kondisi daya beli masyarakat Indonesia saat ini masih berada dalam posisi yang sangat kokoh dan tidak mengalami penurunan sebagaimana yang dikhawatirkan oleh sejumlah pihak.
Meskipun data pada triwulan III-2026 menunjukkan adanya deselerasi atau perlambatan laju pertumbuhan konsumsi dibandingkan periode sebelumnya, pemerintah menilai hal tersebut bukanlah sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi nasional. Menurut Dradjad, fenomena ini murni merupakan dampak dari faktor musiman yang bersifat siklikal.

Dradjad menjelaskan bahwa penurunan ritme belanja tersebut terjadi karena berakhirnya periode libur panjang sekolah dan hari besar keagamaan. Selama masa liburan, masyarakat cenderung melakukan pengeluaran ekstra besar, sehingga ketika masa liburan usai, terjadi normalisasi pola konsumsi.

Related Post
"Konsumsi rumah tangga tidak turun, melainkan tetap tumbuh naik. Namun, memang pertumbuhannya terlihat sedikit lebih kecil karena masa liburan telah berakhir. Perlu dipahami bahwa setiap kali musim liburan tiba, angka konsumsi akan selalu melonjak tajam," ungkap Dradjad saat memberikan keterangan di kawasan Sarinah, Jakarta, pada Minggu (8/11/2026).
Lebih lanjut, ia membedah bahwa yang terjadi di lapangan bukanlah pelemahan kemampuan finansial masyarakat, melainkan adanya pergeseran alokasi belanja. Masyarakat tidak berhenti berbelanja, namun arah pengeluaran mereka berpindah dari sektor konsumsi rutin ke sektor-sektor lain seperti transportasi, komunikasi, serta sektor pariwisata dan perhotelan.
Pergeseran pola belanja ini justru menjadi bukti nyata bahwa kapasitas finansial masyarakat tetap terjaga dengan baik. Jika daya beli benar-benar melemah, maka masyarakat akan cenderung menahan pengeluaran di semua sektor. Namun, fakta menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki ruang fiskal pribadi yang cukup untuk menikmati layanan jasa dan perjalanan.
Pemerintah juga menepis narasi negatif yang mengaitkan perlambatan konsumsi domestik dengan penurunan kesejahteraan masyarakat secara luas. Otoritas ekonomi menekankan bahwa aktivitas belanja rumah tangga secara fundamental masih berada di zona ekspansi yang solid.
"Narasi yang menyebutkan bahwa daya beli masyarakat kita lemah itu tidak benar. Faktanya, daya beli masyarakat kita sangat bagus dan sangat tinggi, hanya saja saat ini terjadi pergeseran pola pengeluaran," tegas Dradjad.
Dengan kondisi ini, pemerintah optimis bahwa mesin pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh konsumsi domestik akan tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu. Melalui pengawasan yang ketat terhadap pola konsumsi ini, pemerintah berharap dapat terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap berada di jalur yang positif.







Tinggalkan komentar