Menteri Keuangan Bongkar Dalang di Balik Isu Rupiah Anjlok!

JAKARTA – Di tengah riuhnya kekhawatiran global akan dampak eskalasi konflik geopolitik, khususnya potensi perang antara Amerika Serikat dan Iran, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil menenangkan pasar. Dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Purbaya dengan tegas membantah narasi yang menyebut nilai tukar Rupiah "hancur" dan justru menyoroti fundamental ekonomi Indonesia yang kokoh.

Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pernyataan Purbaya ini muncul setelah Rupiah sempat bergerak di level Rp17.000 per dolar AS, meskipun pada penutupan perdagangan Jumat lalu telah menguat tipis ke Rp16.958 per dolar AS. Ia menegaskan bahwa daya tahan mata uang Garuda terhadap guncangan eksternal masih sangat solid, merujuk pada data fundamental yang kuat.

COLLABMEDIANET

Rupiah: Stabil di Tengah Badai Geopolitik

Purbaya memaparkan bahwa berdasarkan data historis, setiap kali terjadi konflik peperangan, pelemahan Rupiah tergolong sangat minim dan tidak sedramatis yang dikhawatirkan beberapa pihak. "Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang Rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat betul, itu setiap perang Rupiah hanya terdepresi sebesar 0,3. Jadi sebetulnya bagus daya tahanan kita," ujar Purbaya, Minggu (15/3/2026).

Secara blak-blakan, Purbaya juga menyentil pihak-pihak yang dinilai menyebarkan sentimen negatif terhadap Rupiah. "Yang real, yang pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang nggak punya duit kali Pak yang jelek-jelekin," tambahnya, mengisyaratkan bahwa kritik seringkali datang dari pihak yang kurang memahami data dan dinamika pasar secara mendalam.

Indikator Ekonomi Kuat: Kepercayaan Asing Tetap Tinggi

Untuk memperkuat argumennya, Purbaya menjelaskan bahwa penilaian kondisi ekonomi seharusnya merujuk pada instrumen risiko yang nyata dan terukur. Ia mencontohkan Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun Indonesia yang tetap stabil, menunjukkan persepsi risiko kredit yang terjaga di mata investor global.

Selain itu, Purbaya juga menyoroti selisih (spread) imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) terhadap US Treasury yang hanya bergerak tipis. "Gambar yang kanan atas Pak, itu adalah spread dari SBN terhadap treasury. Di Januari 25, 240 basis point. Sekarang 243 basis point. Naiknya hanya terbatas 0,3 basis point. Artinya asing masih percaya ke kita," jelas Purbaya kepada Presiden.

Ironisnya, Purbaya menemukan adanya perbedaan persepsi antara investor asing dan beberapa pengamat domestik. "Yang domestik aja nggak percaya Pak. Terus kalau kita lihat, ya bukan domestik aja. Pengamat domestik yang nggak percaya," kritiknya, menyoroti perlunya pemahaman yang lebih komprehensif terhadap fundamental ekonomi nasional.

Pernyataan Menteri Keuangan ini menjadi sinyal kuat dari pemerintah bahwa fundamental ekonomi Indonesia, termasuk stabilitas nilai tukar Rupiah, masih berada dalam kondisi yang terkendali dan mampu menghadapi gejolak eksternal. Keyakinan investor asing yang tetap tinggi menjadi bukti nyata daya tarik ekonomi Indonesia di mata dunia.

(Sumber: mediaseruni.co.id)


Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar