JAKARTA – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi baru-baru ini menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih berdiri kokoh di tengah gejolak dan ketidakpastian global. Pernyataan optimis ini disampaikan Prasetyo usai menghadiri sebuah pertemuan strategis di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, yang menggarisbawahi pentingnya sinergi kebijakan antarlembaga.
Pertemuan tersebut, yang diinisiasi oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sufmi Dasco Ahmad, menjadi ajang konsolidasi para pemangku kepentingan ekonomi nasional. Mensesneg Prasetyo hadir mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, ditemani oleh Wakil Ketua Komisi XI DPR dari Fraksi Gerindra, Mohamad Hekal. Tak hanya itu, dua pilar utama kebijakan ekonomi makro, yakni Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, turut hadir, menandakan level koordinasi yang intensif.

"Saya kira ini sebuah gambaran sinyal yang memang kita harapkan, terjadinya koordinasi yang erat, koordinasi yang intens di antara seluruh pemangku kepentingan ekonomi," ujar Prasetyo pada Sabtu lalu, seperti dilansir oleh mediaseruni.co.id. Ia menambahkan bahwa sinergi ini krusial dalam menjaga agar kebijakan moneter maupun fiskal Indonesia tetap berada pada jalur yang optimal dan sesuai harapan.

Related Post
Prasetyo lebih lanjut menjelaskan bahwa situasi ekonomi global saat ini menuntut kerja sama yang solid dari seluruh pihak terkait. Kebijakan moneter yang berada di bawah otoritas Bank Indonesia dan kebijakan fiskal yang dikendalikan oleh Kementerian Keuangan harus saling mendukung dan memperkuat satu sama lain. Harmonisasi ini menjadi kunci dalam menghadapi tantangan eksternal maupun internal.
"Kemarin dilaporkan bahwa angka-angka indikator menunjukkan bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita memang cukup kuat," tegas Prasetyo, memberikan keyakinan publik terhadap data dan analisis yang mendasari pernyataan tersebut. Indikator-indikator makroekonomi seperti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), inflasi yang terkendali, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kinerja neraca pembayaran yang sehat, menjadi landasan utama klaim kekuatan fundamental ini.
Pernyataan Mensesneg ini memberikan angin segar di tengah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global dan potensi resesi di beberapa negara maju. Komitmen pemerintah dan otoritas moneter untuk terus menjaga koordinasi yang erat diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan ekonomi Indonesia, memastikan resiliensi dan keberlanjutan pertumbuhan di masa mendatang.









Tinggalkan komentar