Oleh: Anggie Ariesta Jurnalis mediaseruni.co.id – Senin, 09 Maret 2026 | 11:35 WIB
JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia berada dalam kondisi siaga tinggi setelah nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah drastis hingga menyentuh level Rp17.000. Bersamaan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi hampir 3 persen pada sesi pembukaan. Gejolak ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal yang ekstrem dari Timur Tengah dan kekhawatiran fiskal di dalam negeri, memicu peringatan serius dari berbagai pihak.
Pelemahan signifikan pada mata uang Garuda dan indeks saham acuan ini menjadi indikator awal gejolak pasar yang serius. Analis pasar menilai sentimen negatif ini sangat kuat, mencerminkan ketidakpastian global dan domestik yang sedang membayangi.

Related Post
Menanggapi situasi yang kian memanas, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto bahkan telah menginstruksikan jajarannya untuk siaga tingkat 1. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi dampak perkembangan situasi di dalam negeri akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Pemimpin Baru Iran dan Ancaman Krisis Energi
Pemicu utama gejolak pasar global adalah terpilihnya Mojtaba Khameini sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, menggantikan Ayatullah Khameini. Sosok Mojtaba yang dikenal fundamentalis dikhawatirkan akan memperpanjang dan memperparah eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya kepada mediaseruni.co.id pada Senin (9/3/2026), menjelaskan bahwa ketegangan ini semakin diperparah oleh retorika keras dari Donald Trump. Trump secara terbuka menyatakan akan "memusnahkan" dan "mengganti rezim" yang ada di Iran, menambah bahan bakar pada api konflik.
"Ini yang membuat ketegangan di Timur Tengah melonjak tinggi, berakibat terhadap potensi penutupan Selat Hormuz," jelas Ibrahim. Selat Hormuz adalah jalur vital pengiriman energi global yang jika terganggu, akan memiliki konsekuensi ekonomi yang masif.
Ibrahim menambahkan, banyak analis memprediksi bahwa jika krisis di Timur Tengah tidak menemukan penyelesaian dalam kurun waktu satu bulan, harga minyak mentah global dapat melonjak drastis hingga mencapai USD200 per barel. Saat ini, harga minyak sudah berada di kisaran USD117 per barel, menunjukkan tekanan yang signifikan.
Lonjakan harga minyak hingga level tersebut dikhawatirkan akan memicu krisis ekonomi global yang parah, mengingatkan pada krisis tahun 2008. Terganggunya pasokan energi melalui Selat Hormuz akan melumpuhkan rantai pasok global dan memicu inflasi tak terkendali.
Selain faktor eksternal, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal di dalam negeri juga turut memperparah sentimen negatif pasar, menambah beban pada perekonomian yang sedang berupaya menjaga stabilitas. Dengan Rupiah yang terus tertekan dan ancaman lonjakan harga minyak yang membayangi, pemerintah dan pelaku pasar dituntut untuk ekstra waspada menghadapi potensi gejolak ekonomi yang lebih besar di masa mendatang.









Tinggalkan komentar