mediaseruni.co.id – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) tengah memacu langkah besar dalam memperkuat ekosistem biomassa di tanah air. Perusahaan ini menargetkan pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pembangkit listrik dapat menyentuh angka 10 juta ton per tahun. Ambisi besar ini tidak hanya bertujuan untuk transisi energi, tetapi juga diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja baru yang berbasis ramah lingkungan atau yang dikenal sebagai green jobs.
Langkah strategis ini ditempuh melalui optimalisasi program cofiring yang saat ini telah berjalan di 52 unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di bawah naungan PLN Group. Selain itu, PLN EPI juga fokus pada pengembangan rantai pasok biomassa yang bersumber dari kekayaan domestik serta mempererat kolaborasi dengan berbagai kementerian dan sektor swasta.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengungkapkan bahwa peningkatan penggunaan biomassa merupakan bagian krusial dari strategi percepatan transisi energi nasional. Dengan beralih ke biomassa, ketergantungan terhadap batu bara dapat ditekan, sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi limbah dari sektor pertanian, perkebunan, hingga kehutanan.

Related Post
"Sejak program cofiring ini dimulai pada tahun 2020, perkembangannya sangat pesat. Hingga tahun 2025, program ini telah diimplementasikan di 52 PLTU dengan total pemanfaatan biomassa mencapai 2,352 juta ton," jelas Hokkop dalam keterangannya di Jakarta.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa potensi kebutuhan biomassa dapat mencapai 8 hingga 10 juta ton jika melihat kemampuan teknologi pembangkit yang ada saat ini. Berdasarkan jenis teknologinya, PLTU dengan tipe Pulverized Coal (PC) didorong untuk menyerap biomassa hingga 10 persen. Sementara itu, teknologi Circulating Fluidized Bed (CFB) mampu menyerap lebih dari 25 persen, dan teknologi stoker bahkan bisa mencapai angka di atas 70 persen.
Salah satu contoh nyata keberhasilan teknologi ini dapat dilihat di PLTU Sanggau, Kalimantan Barat. Dengan menggunakan teknologi stoker, pembangkit tersebut telah mampu memanfaatkan biomassa hingga mencapai 73 persen. Bahkan, secara teknis, teknologi ini memiliki potensi untuk menggantikan batu bara sepenuhnya hingga 100 persen, asalkan kualitas dan karakteristik biomassa yang digunakan memenuhi standar teknis yang ditetapkan.
Untuk memastikan keberlanjutan program ini, PLN EPI terus melakukan penguatan pada kualitas bahan baku, terutama pada aspek nilai kalor, kadar air, dan karakteristik material. Transformasi limbah menjadi produk bernilai tinggi seperti wood pellet dan wood chip menjadi kunci agar bahan bakar tersebut sesuai dengan spesifikasi teknologi pembangkit.
Jika menilik data historis, tren penggunaan biomassa menunjukkan grafik pertumbuhan yang sangat positif. Dari yang awalnya hanya mencatatkan 9.728 ton pada tahun 2020, angka tersebut melonjak menjadi 282.581 ton pada 2021, lalu naik ke 585.663 ton pada 2022, dan menembus 1,006 juta ton pada 2023. Pertumbuhan ini terus berlanjut hingga mencapai 1,624 juta ton pada 2024 dan mencapai 2,352 juta ton pada 2025. Melalui konsistensi ini, Indonesia optimis dapat mewujudkan kemandirian energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.







Tinggalkan komentar