Mediaseruni.co.id, GARUT - Anak-anak di Selatan Garut harus menantang maut, untuk menimba ilmu. Mereka harus hanyut langsung ke sungai, untuk menyeberang dari kampungnya menuju sekolahannya.
Anak-anak itu berada di Kampung Wangun, Desa Gunamekar, Kecamatan Bungbulang, Garut. Setiap hari, baik hendak ke sekolah, maupun pulang dari sekolah ke rumah, mereka harus menantang maut, menyeberangi Sungai Cirompang, tanpa perahu atau jembatan.
Bagi mereka, celana atau baju basah bukan halangan untuk menimba ilmu, yang sudah mereka perjuangkan dengan menghempaskan rasa takut. Jika musim kemarau, mereka tak perlu uji nyali untuk sampai ke sekolah dan pulang ke rumah.
Namun jika musim hujan tiba, mereka harus menambal nyalinya, karena medan yang dihadapi sangat berbahaya dan beresiko tinggi. Selain air sungai meluap, lebih dalam, arusnya juga begitu kencang.
Aditia, salah seorang anak itu menuturkan, dia dan teman-temannya harus ekstra hati-hati saat menyeberangi sungai tersebut. Sebab, dengan kondisi air yang deras dan pijakan licin bisa membuat mereka terpeleset.
“Sebelum menyeberang, kita copot dulu sepatu. Kita harus hati-hati, soalnya banyak yang terpeleset karena licin. Kita tak ada pilihan. Ini jalan yang paling dekat,” katanya, Selasa 14 Februari 2023.
Ada sebab kenapa mereka harus hanyut langsung di sungai, menyeberang dari kampungnya menuju sekolah, pun sebaliknya. Selain tak ada lagi akses, jembatan penghubung yang biasa mereka dan warga gunakan, terputus, dan hingga saat ini belum juga diperbaiki.
Menurut info, jembatan itu putus pada pekan kemarin. Lantas, berapa jauh mereka harus berjalan menyusuri Sungai Cirompang untuk sampai ke sekolahnya yang berada di Desa Jagabaya, Kecamatan Mekarmukti, Garut.
Bentangan sungai yang mereka susuri lumayan lebar sekitar 100 meter. Arus Sungai Cirompang juga terbilang cukup deras. Tapi tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali menempuh cara itu agar sampai ke sekolahnya itu. (mds)
Editor: Bayu Hidayah


