Terungkap! Proyek Triliunan Rupiah Selamatkan Jutaan Warga Pantura?

Terungkap! Proyek Triliunan Rupiah Selamatkan Jutaan Warga Pantura?

JAKARTA – Sebuah mega proyek ambisius, Giant Sea Wall (GSW) atau Tanggul Laut Raksasa, di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura) tengah digodok serius, diperkirakan akan menelan investasi fantastis antara USD 80 hingga 100 miliar. Proyek strategis nasional ini dirancang untuk menjadi benteng pertahanan vital bagi sekitar 17 hingga 20 juta jiwa penduduk serta aset-aset nasional bernilai lebih dari USD 368 miliar dari ancaman serius banjir rob dan penurunan muka tanah yang kian mengkhawatirkan.

Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) kini fokus pada penyusunan rencana induk (master plan) dan pendalaman studi kelayakan. Kepala BOPPJ, Didit Herdiawan Ashaf, mengungkapkan bahwa skema pembiayaan proyek ini akan mengandalkan sinergi pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta partisipasi investor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Terungkap! Proyek Triliunan Rupiah Selamatkan Jutaan Warga Pantura?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Secara keseluruhan, estimasi biaya mencapai sekitar 80 hingga 100 miliar dolar AS. Kami sedang melakukan kajian komprehensif untuk memastikan keuntungan maksimal bagi Indonesia, sehingga tidak terlalu membebani keuangan negara," jelas Didit.

COLLABMEDIANET

Meskipun belum ada arus investasi asing maupun domestik yang masuk, BOPPJ telah mengidentifikasi dan memetakan wilayah-wilayah pesisir Pantura yang menjadi prioritas utama untuk tahap awal pembangunan tanggul raksasa ini.

Visi Jangka Panjang dan Skala Proyek Kolosal

Pembangunan GSW ditegaskan bukan sekadar solusi jangka pendek, melainkan sebuah investasi infrastruktur yang dirancang untuk bertahan hingga 300 tahun ke depan. Oleh karena itu, setiap tahapan, termasuk struktur pembiayaan, dikelola dengan sangat hati-hati dan cermat.

Proyek GSW akan membentang sepanjang 535 kilometer, melintasi lima provinsi krusial: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Cakupannya meliputi lima kota besar dan 25 kabupaten, menunjukkan skala dan kompleksitas proyek yang luar biasa.

Sebagai contoh, Didit menjelaskan bahwa GSW di pesisir Jakarta akan dibagi menjadi dua segmen utama, yakni tanggul laut raksasa di sisi timur dan barat. Di antara kedua segmen ini, direncanakan pembangunan jembatan penghubung serta waduk retensi yang berpotensi besar menjadi sumber pasokan air baku bagi ibu kota.

Dalam proses perencanaannya, BOPPJ, di bawah supervisi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, menjalin kolaborasi erat dengan akademisi dari berbagai universitas dan pakar lingkungan. Sinergi ini bertujuan untuk mengkaji akar permasalahan abrasi dan degradasi lingkungan di pesisir secara mendalam.

Kajian Mendalam dan Keterlibatan Ahli Global

Saat ini, penyusunan master plan proyek berada pada fase krusial. Dari hasil kajian bersama para ahli, proyek GSW akan dilanjutkan dengan penulisan naskah akademik sebagai landasan perencanaan, termasuk pematangan eksekusi proyek secara simultan di seluruh kawasan Pantura.

Keterlibatan ahli dari luar negeri juga menjadi bagian integral dalam perencanaan proyek ini. Kedalaman dan kematangan kajian akademis dinilai berkorelasi langsung dengan keberhasilan implementasi proyek di masa depan.

"Bukan hanya 17 hingga 20 juta jiwa penduduk yang harus kami lindungi, tetapi juga seluruh aset nasional di Pantura Jawa yang nilainya kurang lebih mencapai 368 miliar dolar AS," tegas Didit, menyoroti urgensi perlindungan aset ekonomi negara.

Solusi Komprehensif untuk Berbagai Persoalan Pesisir

BOPPJ menekankan bahwa penyusunan master plan dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, yang meminta agar proyek penanggulangan penurunan permukaan tanah dan banjir rob segera direalisasikan.

Didit menjelaskan, GSW menawarkan solusi komprehensif untuk mengatasi beragam isu pesisir, seperti banjir rob, degradasi lingkungan, penurunan muka tanah, hingga banjir akibat tersendatnya aliran air karena minimnya daerah penampung seperti embung atau bendungan.

Ia menambahkan, proyek tanggul laut raksasa ini mengadopsi praktik terbaik dari pengalaman negara-negara maju. "Pelaksanaannya akan kami lakukan bersama para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri. Contohnya Belanda, yang telah lebih dari 135 tahun membangun dam dan berhasil hidup di bawah permukaan laut sekitar 5 hingga 11 meter," pungkasnya, menunjukkan optimisme terhadap keberhasilan proyek ini.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar