JAKARTA – Menjelang bulan suci Ramadan, PT KAI melalui layanan LRT Jabodebek mengumumkan sebuah kebijakan inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan para penggunanya. Mulai waktu azan Magrib hingga pukul 19.00 WIB, penumpang kini secara resmi diperbolehkan untuk berbuka puasa, baik di dalam rangkaian kereta maupun di area stasiun. Langkah ini menandai komitmen LRT Jabodebek dalam merespons kebutuhan spesifik komuter selama periode ibadah puasa.
Radhitya Mardika, Manager of Public Relation LRT Jabodebek, menjelaskan bahwa regulasi baru ini merupakan bentuk pelayanan prima yang disesuaikan dengan dinamika mobilitas masyarakat, khususnya pada jam pulang kerja yang kerap menjadi periode puncak kepadatan. "Kebijakan ini dirancang untuk memfasilitasi pengguna yang masih dalam perjalanan saat waktu berbuka tiba, sehingga mereka dapat menjalankan ibadah tanpa mengganggu ketertiban operasional," ujar Radhitya dalam keterangan resminya, Rabu lalu.
Ia menambahkan, kelonggaran ini memungkinkan penumpang mengonsumsi makanan dan minuman ringan. "Pengguna diperkenankan menikmati kurma, roti, serta air minum. Namun, kami sangat mengimbau untuk tidak mengonsumsi makanan berat atau yang memiliki aroma menyengat, demi menjaga kenyamanan kolektif seluruh penumpang," tegasnya. Pembatasan ini esensial untuk menjaga kualitas udara dan kebersihan di dalam gerbong, sekaligus menghindari potensi gangguan bagi penumpang lain.

Related Post
Lebih lanjut, untuk mendukung kebijakan ini, LRT Jabodebek juga menyediakan fasilitas air minum gratis di seluruh stasiun. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu penumpang yang membutuhkan hidrasi segera setelah berbuka. PT KAI juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan. "Kami meminta seluruh pengguna untuk menyimpan sampah sisa makanan dan minuman terlebih dahulu, kemudian membuangnya di tempat sampah yang telah tersedia di stasiun tujuan," pungkas Radhitya.
Kebijakan ini dipandang sebagai langkah strategis LRT Jabodebek dalam meningkatkan pengalaman pengguna, sekaligus menunjukkan adaptabilitas layanan transportasi publik terhadap kebutuhan kultural dan religius masyarakat. Hal ini berpotensi memperkuat citra positif LRT sebagai moda transportasi yang responsif dan berorientasi pada kepuasan pelanggan, terutama di tengah tingginya arus komuter selama bulan Ramadan.







Tinggalkan komentar