Tarif Tol Rp70 Ribu Bikin Distribusi Barang Macet? Pelindo Disorot!

Tarif Tol Rp70 Ribu Bikin Distribusi Barang Macet? Pelindo Disorot!

JAKARTA – Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC), yang digadang-gadang sebagai urat nadi logistik utama dari kawasan industri Cikarang, Bekasi, hingga Karawang menuju Pelabuhan Tanjung Priok, ternyata belum mampu beroperasi optimal. Meskipun memiliki konektivitas strategis, utilisasi ruas tol ini masih jauh dari harapan, memicu sorotan tajam terhadap efektivitasnya dalam menunjang kelancaran arus barang.

Hingga kini, data menunjukkan bahwa jumlah kendaraan yang melintas setiap hari hanya berkisar 8.000 unit. Angka ini terbilang sangat minim dibandingkan kapasitas yang tersedia, menimbulkan kerugian potensi pendapatan dan memicu desakan agar pengelola segera mengambil langkah konkret. Salah satu poin krusial yang disorot adalah penyesuaian dan integrasi tarif guna menekan biaya angkutan serta mengurai kepadatan di ruas tol alternatif.

Tarif Tol Rp70 Ribu Bikin Distribusi Barang Macet? Pelindo Disorot!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, Sofyano Zakaria, menegaskan bahwa PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) sebagai salah satu pemangku kepentingan, harus segera bertindak. "Keberadaan Tol Cibitung-Cilincing seharusnya menjadi jawaban atas persoalan distribusi barang dari sentra industri ke pelabuhan. Namun, kenyataannya belum demikian," ujar Sofyano pada Sabtu (28/2/2026).

COLLABMEDIANET

Menurut Sofyano, konektivitas langsung JTCC ke kawasan Pelabuhan Tanjung Priok semestinya menjadi solusi utama untuk kelancaran distribusi barang dari sentra-sentra industri. Namun, ia menyoroti tarif sekitar Rp70.000 per unit kendaraan untuk golongan tertentu sebagai hambatan utama. "Biaya yang dinilai masih mahal ini membuat banyak operator logistik enggan menggunakan JTCC dan memilih jalur alternatif, meskipun berisiko lebih padat dan kurang efisien," tambahnya.

Mengingat Pelindo memiliki kepemilikan saham pada ruas tol JTCC, Sofyano mendesak manajemen untuk mengupayakan pemberlakuan tarif terintegrasi dengan jaringan tol lain. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya logistik secara keseluruhan, menjadikan JTCC pilihan yang lebih menarik dan efisien bagi pelaku usaha.

"Pembicaraan serius dengan Pemerintah dan pihak terkait sangat diperlukan untuk memecahkan masalah tarif ini. Keberhasilan dalam mengatasi isu yang ada, terutama terkait tarif yang dinilai mahal, akan sangat diapresiasi publik dan dunia usaha," jelas Sofyano. Ia juga menambahkan, sepinya pengguna JTCC berdampak langsung pada kepadatan di ruas Tol Cikampek dan Tol Cakung-Cilincing (Cacing) Cikarang yang tetap menjadi pilihan utama kendaraan logistik, menciptakan inefisiensi dalam rantai pasok nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar