Jakarta – Di tengah dinamika industri kelapa sawit nasional yang terus menjadi sorotan global, sebuah fakta menarik terkuak mengenai kontribusi signifikan pekerja perempuan. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) secara tegas menyatakan komitmennya untuk memperkuat kapasitas mereka, demi mewujudkan lingkungan kerja yang tidak hanya manusiawi dan adil, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi.
Kontribusi ini bukan sekadar angka, melainkan pilar penting dalam rantai produksi komoditas strategis nasional yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Ketua GAPKI Cabang Sulawesi, Dony Yoga Perdana, menyoroti data konkret dari wilayahnya. "Ada kurang lebih 10,68% komposisi karyawan perempuan dari total karyawan tetap yang bekerja di industri perkebunan di wilayah Sulawesi," ungkap Dony dalam keterangan yang diterima mediaseruni.co.id pada Selasa (3/3/2026). Angka ini menunjukkan bahwa perempuan adalah bagian integral dari operasional harian yang menggerakkan roda ekonomi sawit, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga proses panen.
Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, GAPKI baru-baru ini menggelar acara bertajuk "Sawit Indonesia Ramah Pekerja Perempuan: Pertemuan Pemangku Kepentingan dan Lokakarya Perlindungan Pekerja Perempuan Perkebunan Sawit di Sulawesi" pada 11–12 Februari 2026. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat perlindungan bagi pekerja perempuan melalui kolaborasi multi-pihak, melibatkan perusahaan, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat sipil. Tujuannya adalah mendorong penerapan praktik kerja yang lebih adil dan bermartabat di seluruh perkebunan, memastikan hak-hak pekerja terpenuhi, dan menciptakan ruang kerja yang aman serta produktif.

Related Post
Acara strategis ini tidak lepas dari dukungan penuh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) serta mitra terkait. Dukungan ini bukan hanya sekadar fasilitasi, melainkan bagian integral dari visi penguatan sawit berkelanjutan, yang secara eksplisit mengintegrasikan prinsip kesetaraan gender dalam setiap program pendanaan. Hal ini menandakan pergeseran paradigma menuju industri yang lebih inklusif dan bertanggung jawab, di mana peran perempuan diakui dan diberdayakan sebagai aset berharga.
Dengan demikian, upaya kolektif dari GAPKI, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan para pelaku usaha diharapkan mampu mengangkat harkat dan martabat pekerja perempuan, sekaligus memastikan keberlanjutan dan daya saing industri kelapa sawit Indonesia di kancah global. Kontribusi mereka adalah aset tak ternilai bagi perekonomian bangsa, dan pemberdayaan mereka adalah investasi jangka panjang untuk masa depan sawit Indonesia yang lebih cerah.









Tinggalkan komentar