Paradoks Ekonomi RI: Pengangguran Anjlok, Jutaan Masih Terjebak!

Paradoks Ekonomi RI: Pengangguran Anjlok, Jutaan Masih Terjebak!

JAKARTA – mediaseruni.co.id, 8 Februari 2026 – Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap fenomena menarik sekaligus menantang dalam lanskap ekonomi Indonesia. Meskipun angka pengangguran menunjukkan tren penurunan signifikan, jumlah penduduk miskin di Tanah Air masih berada pada level yang mengkhawatirkan, mencapai puluhan juta jiwa.

Per November 2025, BPS mencatat jumlah pengangguran menyusut menjadi 7,35 juta orang, sebuah penurunan yang patut diapresiasi. Namun, di sisi lain, hingga September 2025, tercatat ada 23,36 juta penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, meskipun tingkat kemiskinan secara persentase juga mengalami penurunan menjadi 8,25 persen. Situasi ini memicu pertanyaan mendalam mengenai kualitas pertumbuhan ekonomi dan efektivitas program pengentasan kemiskinan.

Paradoks Ekonomi RI: Pengangguran Anjlok, Jutaan Masih Terjebak!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Penurunan Angka Pengangguran: Sebuah Angin Segar?

COLLABMEDIANET

Related Post

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam pernyataannya yang dikutip mediaseruni.co.id, mengonfirmasi bahwa jumlah angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja, atau pengangguran, telah berkurang. "Jumlah orang yang menganggur mengalami penurunan," tegas Amalia di Jakarta pada Rabu (5/2/2025). Penurunan ini cukup substansial, yakni sebanyak 0,109 juta orang dibandingkan periode Agustus 2025, menandakan adanya perbaikan dalam penyerapan tenaga kerja.

Kemiskinan: Angka Absolut Masih Jadi Tantangan Besar

Kendati demikian, sorotan tajam tertuju pada data kemiskinan. Meskipun persentase penduduk miskin berhasil ditekan hingga 8,25 persen pada September 2025 – sebuah penurunan yang berarti 490 ribu orang keluar dari jurang kemiskinan – angka absolut 23,36 juta jiwa yang masih tergolong miskin tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan ekonomi. Angka ini menunjukkan bahwa upaya penurunan kemiskinan, meskipun berhasil secara persentase, masih belum mampu menjangkau jutaan individu yang rentan.

Dinamika Struktur Ketenagakerjaan Indonesia

Analisis lebih mendalam terhadap struktur ketenagakerjaan per November 2025 menunjukkan dinamika positif. Populasi usia kerja di Indonesia mencapai 218,85 juta orang, bertambah 0,861 juta jiwa dari Agustus 2025. Dari jumlah tersebut, angkatan kerja meningkat signifikan menjadi 155,27 juta orang, naik 1,262 juta orang. Sementara itu, kelompok bukan angkatan kerja menyusut menjadi 63,58 juta orang, mengindikasikan semakin banyak penduduk yang aktif mencari atau memiliki pekerjaan.

Dari total angkatan kerja, sebanyak 147,91 juta orang tercatat telah terserap di pasar kerja, dengan penambahan 1,371 juta orang dibandingkan periode sebelumnya. Rinciannya, pekerja penuh waktu mendominasi dengan 100,49 juta orang, mengalami peningkatan 1,85 juta orang. Namun, perlu dicermati bahwa masih terdapat 35,858 juta pekerja paruh waktu, meskipun jumlahnya sedikit menurun 0,438 juta orang. Lebih lanjut, fenomena setengah pengangguran, yakni mereka yang bekerja kurang dari jam kerja penuh dan masih mencari pekerjaan tambahan, juga masih signifikan di angka 11,558 juta orang, meski ada penurunan tipis 0,042 juta orang dibandingkan dengan bulan Agustus 2025.

Mengurai Paradoks: Kualitas Pekerjaan dan Kesenjangan Pendapatan

Paradoks antara penurunan angka pengangguran dan tingginya jumlah penduduk miskin ini mengindikasikan adanya tantangan struktural dalam penciptaan lapangan kerja berkualitas. Penurunan jumlah pengangguran bisa jadi didorong oleh peningkatan serapan di sektor informal atau pekerjaan dengan upah rendah yang belum mampu mengangkat individu keluar dari garis kemiskinan secara berkelanjutan. Data pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran yang masih berjuta-juta jiwa menegaskan bahwa masalah bukan hanya ketersediaan pekerjaan, melainkan juga kualitas dan keberlanjutan pendapatan dari pekerjaan tersebut.

Pemerintah perlu terus menggalakkan program-program yang tidak hanya fokus pada penciptaan lapangan kerja secara kuantitas, tetapi juga pada peningkatan kualitas pekerjaan, upah layak, dan perlindungan sosial yang komprehensif. Ini termasuk mendorong investasi di sektor padat karya yang memberikan nilai tambah tinggi serta meningkatkan keterampilan angkatan kerja agar sesuai dengan tuntutan pasar yang terus berkembang. Dengan demikian, meski ada angin segar dari data pengangguran, perjuangan untuk mengentaskan jutaan rakyat dari belenggu kemiskinan masih panjang dan membutuhkan strategi ekonomi yang lebih holistik dan terarah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar