Terungkap! Ini Kunci Ekonomi RI Bertahan 69 Bulan Surplus!
JAKARTA – (2 Maret 2026) – Ekonomi Indonesia kembali menunjukkan performa gemilang di awal tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan barang yang membukukan surplus sebesar USD 0,95 miliar pada Januari 2026. Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan penanda konsistensi luar biasa, mengingat ini adalah bulan ke-69 berturut-turut Indonesia mencatatkan surplus sejak Mei 2020. Sebuah rekor yang menegaskan resiliensi dan adaptabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam keterangan persnya pada Senin (2/3/2026), menjelaskan bahwa keberlanjutan tren positif ini ditopang kuat oleh kinerja sektor non-migas. "Kontribusi signifikan dari komoditas non-migas berhasil menciptakan surplus sebesar USD 3,22 miliar," ujar Ateng. Ia merinci, komoditas penyumbang utama dalam kategori ini meliputi lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta produk besi dan baja, yang menunjukkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.

Related Post
Kendati demikian, sektor migas masih menjadi tantangan. Neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit sebesar USD 2,27 miliar. Defisit ini, lanjut Ateng, sebagian besar dipicu oleh impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, kinerja positif non-migas mampu mengkompensasi defisit ini, menjaga neraca perdagangan tetap hijau dan stabil.
Analisis lebih lanjut dari BPS menunjukkan bahwa beberapa negara menjadi mitra dagang kunci dalam menjaga surplus Indonesia. Amerika Serikat memimpin daftar dengan kontribusi surplus sebesar USD 1,55 miliar, disusul oleh India dengan USD 1,07 miliar, dan Filipina sebesar USD 0,69 miliar. Ini mengindikasikan kuatnya permintaan dari pasar-pasar tradisional maupun berkembang untuk produk-produk unggulan Indonesia.
Di sisi lain, beberapa negara tercatat sebagai sumber defisit perdagangan Indonesia. China menjadi yang terbesar dengan defisit mencapai USD 2,47 miliar, diikuti oleh Australia sebesar USD 0,96 miliar, dan Prancis dengan USD 0,47 miliar. Data ini menyoroti ketergantungan impor Indonesia pada beberapa negara untuk komoditas tertentu, yang perlu terus dianalisis untuk strategi diversifikasi ke depan.
Tren surplus yang konsisten selama lebih dari lima tahun ini menegaskan resiliensi ekonomi Indonesia di tengah gejolak global. Kinerja ekspor non-migas yang solid menjadi tulang punggung, memberikan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2026, sekaligus menjadi bukti efektivitas kebijakan perdagangan yang telah diterapkan.









Tinggalkan komentar