Berkah Ramadan: Pasar Tanah Abang Panen Cuan dari Kurma, Kenapa?
JAKARTA – Geliat ekonomi musiman kembali menyemarakkan Pasar Tanah Abang, Jakarta, seiring datangnya bulan suci Ramadan. Komoditas kurma, yang menjadi primadona takjil berbuka puasa, mencatatkan lonjakan permintaan yang signifikan, memicu kenaikan penjualan hingga 15 persen. Fenomena ini terpantau pada Sabtu (21/2/2026), menunjukkan betapa kuatnya daya dorong tradisi keagamaan terhadap perputaran roda ekonomi lokal.
Para pedagang di salah satu sentra perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara ini melaporkan adanya peningkatan aktivitas pembeli yang mencari beragam jenis kurma. Mulai dari varietas premium yang mewah seperti Ajwa, Sukari, dan Medjool, hingga jenis populer yang lebih terjangkau seperti Khalas, Safawi, Bahri, dan Ruthob, semuanya menjadi incaran konsumen. Harga yang ditawarkan bervariasi, menyesuaikan jenis dan kualitas, dengan rentang mulai dari Rp60.000 hingga Rp350.000 per kilogram.

Related Post
Lonjakan penjualan sebesar 15 persen ini bukan sekadar angka, melainkan indikator vital bagi kesehatan pasar komoditas musiman. Bagi para pelaku usaha, momen Ramadan adalah puncak keuntungan, di mana perputaran modal dan omzet dapat meningkat drastis. Kenaikan ini juga merefleksikan daya beli masyarakat yang tetap stabil atau bahkan meningkat untuk kebutuhan pokok dan pelengkap selama bulan puasa.
Secara ekonomi, kurma memiliki posisi unik. Selain sebagai anjuran sunnah untuk berbuka puasa, buah ini juga dikenal kaya akan nutrisi, menjadikannya pilihan ideal untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Faktor kesehatan dan religiusitas inilah yang secara konsisten mendorong permintaan tinggi setiap tahunnya, menciptakan siklus ekonomi yang menguntungkan bagi para importir, distributor, hingga pedagang eceran di pasar tradisional seperti Tanah Abang.
Dengan tren positif ini, para pelaku usaha di Pasar Tanah Abang optimistis dapat meraup keuntungan maksimal sepanjang bulan Ramadan. Peningkatan penjualan kurma ini tidak hanya memperkuat posisi Tanah Abang sebagai pusat perdagangan yang dinamis, tetapi juga menunjukkan bagaimana tradisi dan kebutuhan spiritual masyarakat dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang substansial.







Tinggalkan komentar