26.5 C
Jakarta
Selasa, Januari 31, 2023

BINTANG YANG KE TUJUH (12)

SIWO Kastam memang tak suka mendengar Raden Mas Syahid dikatai yang jelek-jelek. Itu kentara dari perubahan wajahnya mendadak kecut.

“Omongan-omongan kayak gitu ndak usah didengerin. Den Mas Syahid menolong orang-orang kesusahan dan kelaparan. Kalau kita susah Den Mas Syahid pun akan menolong kita.”
Mbok Suti pun tidak bicara lagi. Siwo memperhatikan isterinya dengan iba. Siwo tahu Mbak Suti cuma menghibur diri, padahal hatinya sedang dicekam ketakutan luar biasa akibat kemurkaan Gusti Adipati. Itulah mengapa Siwo segera memeluk isterinya sambil berucap menenangkan.

Dari bangunan kesenian tidak terdengar lagi suara gending. Raden Mas Syahid sudah berhenti bermain. Ini jarang terjadi, biasa putra Tumenggung Wilwatikta Tuban ini bisa berjam-jam bermain gending. Siwo tidak melihat putra tumenggungnya itu kapan keluar dari dalam ruangan. Raden Mas Syahid sendiri nampaknya tidak mau ambil peduli. Meski disaat begitu hatinya sedang gundah. Keseluruhan benaknya dipenuhi kebimbangan.

Syahid merasa harus ambil keputusan. Ia sadar kebersatuan terhadap orang orang miskin kelaparan tidak akan pernah berhenti. Sedang disebelah pihak Syahid itulah putra seorang Wilwatikta yang begitu disegani di Majapahit. Keadaan ini membuat hatinya semakin meragu. Ah, andaikan ia anak seorang petani biasa, tentu segalanya akan terasa lebih mudah. Dan ia tidak perlu berbimbang-bimbang sedemikian rupa. Raden Mas Syahid menghela napas panjang. Ada sedikit kelonggaran mengurangi gumpalan memadat didada. “Hmm, bukankah sekarang lagi musim berjudi di Kadipaten Pajang…”

Teringat sesuatu itu semangatnya muncul. Musim berjudi. Hampir ia melupakan. Wajahnya mulai nampak kendur ketegangannya. Seperti luntur perlahan. Biasanya pada musim musim itulah banyak berdatangan penjudi penjudi kawakan dari berbagai penjuru. Tentu saja dengan membawa bekal-bekal yang cukup. Bisa dibilang pada musim itu waktunya penjudi penjudi kelas kakap benar benar mempertunjukkan kemahiran dalam berjudi.

BACA JUGA:  Bintang Yang Ke Tujuh (3)

Putra Tumenggung Wilwatikta ini segera mempercepat larinya kearah selatan. Tujuannya Kadipaten Pajang. Kadipaten ini termasuk wilayah Pesisir Selatan Jawa. Kadipaten inilah dahulu yang dikunjungi Prabu Hayam Wuruk sebelum terjadi peristiwa memalukan di Lapangan Bubat. Sang Prabu berhati iklas dan tertarik pada kejelitaan dara kebanggaan Padjajaran dyah Pitaloka. Keteguhan hati Sang Prabu memegang ‘Sumpah Darah’ Sang Wijaya, pendiri Majapahit akhirnya tercoreng lantaran keangkuhan Sang Gajamada, Mahapati perkasa pemersatu nusantara.

Keinginan Hayam Wuruk mempersatukan Padjajaran dan Majapahit dengan cara damai rupanya tak kesampaian. Sang Mahapatih lebih mengutamakan gengsinya bahwa panji-panji Padjajaran tidak layak ditegakan sama tinggi dengan panji-panji Majapahit. Gajamada merasa terhina, Hayam Wuruk memang meminta Putri Padjajaran, tetapi Dyah Pitaloka yang diberikan. Bukankah Dyah Pitaloka ini putri Padjajaran? Menurut Sang Mahapatih bukan. Sang Sinuhun di Majapahit meminta Putri Siliwangi.

Duh, biyung… Putri Siliwangi yang mana? Apakah yang dimaksud adiknya Pangeran Walangsungsang. Bukanlah selama ini gadis pemilik nama islam Siti Syarifah Muda Im itu sudah lama menimbah ilmu di tanah leluhur kakeknya di Arab sana. Dan bukankah selama ini yang memerintah Padajajaran adalah Siliwangi. Dan bukankah Dyah Pitaloka ini juga putri Siliwangi?

Sungguh, Gajamada ini manusia tidak jelas. Dan karena itu juga, manusia berjuluk Harimau Sumatera, sempat bergusar hati begitu menyaksikan pasukan pemgawal Padjajaran yang mengawal Raja Padjajaran dan Dyah Pitaloka terkapar berkalang tanah dengan tubuh penuh darah. Sang Gajamada merasa ragu juga melanjutkan rasa kesalnya begitu menyadari kehadiran Harimau Sumatera bersama pasukannya yang berjumlah 40 orang. Semuanya berjubah putih. Gajamada sendiri hanya pernah mendengar betapa mengerikannya sepak terjang pasukan berjuluk ‘Siluman Padang Ilalang’ itu ketika mengawal Raden Wijaya kembali ke kerajaannya.

BACA JUGA:  BINTANG YANG KE TUJUH (9)

Kalau kemudian pasukan itu raib begitu saja setelah Majapahit berdiri, barangkali di dunia ini hanya Prabu Siliwangi mengetahui. Yang membuat Gajamada terperangah kala itu adalah Aji ‘Auman Harimau Putih’ bukankah ajian itu hanya dimiliki Walangsungsang…. Ajian itu sanggup menghabisi satu batalion pasukan sekalipun tanpa harus bertempur. Mereka akan mati dengan pembulu darah pecah. Dari mata, telinga dan hidup akan keluar darah kental.

Dengan rasa malu dan penyesalan Sang Benteng Perkasa Kebangan Nusantara Mahapati gagah Gajamada pergi meninggalkankan pertempuran membawa pasukannya kembali ke Majapahit. (bersambung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Stay Connected

2,411FansSuka
146PengikutMengikuti
35PengikutMengikuti

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: