mediaseruni.co.id – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) tengah mengukir ambisi besar dalam peta energi nasional. Mereka menargetkan suplai biomassa mencapai 3,65 juta ton untuk 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di seluruh penjuru Indonesia pada tahun 2026. Angka ini bukan main-main, melonjak drastis sekitar 50 persen dari capaian pasokan tahun 2025 yang tercatat 2,35 juta ton.
Hingga akhir Agustus 2026, realisasi program cofiring telah menembus angka 1,4 juta ton biomassa. Ini menunjukkan progres signifikan, mendekati separuh dari sasaran pasokan untuk tahun berjalan. Guna mengakselerasi pencapaian ini, PLN EPI terus memperkuat ekosistem hulu, meningkatkan mutu biomassa, serta menyelaraskan kebutuhan pembangkit dengan kesiapan suplai.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa kendala dalam pemanfaatan biomassa bukan hanya soal volume ketersediaan. Tantangan lain meliputi kualitas bahan baku, efisiensi biaya logistik, dan kemampuan PLTU dalam mengolah biomassa.

Related Post
Penguatan ekosistem biomassa menjadi krusial seiring dengan peningkatan target cofiring. Biomassa sendiri memegang peranan vital dalam mereduksi emisi dari pembangkit yang sudah beroperasi. Melalui skema cofiring, biomassa dapat dicampur dengan batu bara, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di pembangkit yang sama.
Hokkop juga menegaskan pentingnya memastikan biomassa yang disuplai memiliki kualitas sesuai standar kebutuhan pembangkit. PLN EPI berkomitmen untuk terus memperbaiki mutu pasokan dan membangun kemitraan kuat dengan para pemasok agar biomassa benar-benar layak diterima oleh PLTU.
Indonesia memiliki potensi biomassa yang melimpah ruah. Hokkop menyebutkan bahwa kapasitas biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton per tahun, namun yang baru termanfaatkan sekitar 22 juta ton. Ini membuka peluang besar untuk pengembangan lebih lanjut.
Untuk memperkokoh rantai pasok, PLN EPI mengembangkan berbagai fasilitas infrastruktur seperti subhub, hub, dan main hub di sejumlah lokasi strategis. Strategi ini dirancang untuk meningkatkan kuantitas, kualitas, serta keberlanjutan pasokan biomassa secara menyeluruh.
Beberapa proyek pengembangan yang sedang berjalan meliputi fasilitas dewatering di Ciamis, main biomass hub di Lebak, biomass hub di Tasikmalaya, pemasangan jembatan timbang di PLTU Sintang dan Barru, serta peluncuran digital marketplace biomassa di Cilacap.
Hokkop berharap penguatan di sektor hulu, melalui pengembangan sumber biomassa dan infrastruktur pendukung, dapat berjalan selaras dengan kesiapan PLTU di sektor hilir. Dengan sinergi ini, pengembangan biomassa tidak hanya akan membantu mengejar target cofiring dan penurunan emisi, tetapi juga menciptakan roda ekonomi baru yang melibatkan masyarakat di daerah penghasil biomassa, membawa dampak positif yang berkelanjutan.









Tinggalkan komentar